Generasi Muda dan Tugas Memelihara Kesaktian Pancasila
📅 Rabu, 01 Okt 2025, 11:05 WIB | Oleh: Tim PenulisSutan Sjahrir memberi contoh melalui keberanian berpikir maju dengan landasan moral. Di masa revolusi yang penuh kekerasan, ia justru menekankan diplomasi rasional dan kemanusiaan.
Agus Salim, dengan kecerdasan dan kerendahan hatinya, menunjukkan bahwa kebijaksanaan dan keikhlasan dapat memperkuat posisi Indonesia di mata dunia.
Sayangnya, banyak pemimpin saat ini terjebak pada praktik yang justru bertentangan dengan nilai-nilai tersebut. Alih-alih meneladani integritas Hatta, korupsi justru masih marak. Alih-alih mencontoh keberanian moral Sjahrir, pragmatisme politik lebih sering dipertontonkan.
Padahal di tengah arus globalisasi dan digitalisasi, lahir tantangan baru bagi aktualisasi Pancasila. Media sosial mempercepat arus informasi, tetapi juga memicu polarisasi dan ujaran kebencian.
Sebaiknya Anda baca juga:
Algoritma digital kadang lebih kuat membentuk opini publik daripada diskursus kebangsaan. Konsumerisme yang ditopang iklan instan mengikis semangat gotong royong.
Di sinilah Pancasila harus hadir secara nyata. Sila pertama mengajarkan spiritualitas yang membebaskan dari materialisme semata. Sila kedua menekankan kemanusiaan di tengah dunia digital yang kerap menihilkan empati. Sila ketiga mengingatkan kita untuk memperkokoh persatuan di tengah perbedaan.
Sila keempat mendorong demokrasi yang sehat, bukan demokrasi transaksional. Dan sila kelima adalah pengingat abadi bahwa pembangunan harus menyejahterakan semua, bukan hanya segelintir elite.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai kompas moral
Menyikapi perubahan arus global, peringatan Hari Kesaktian Pancasila sejatinya tidak boleh berhenti pada ritual tahunan. Ia harus menjadi momentum refleksi, menguji diri apakah kita benar menjadikan Pancasila pedoman hidup, atau sekadar simbol formal yang terus diucapkan tetapi jarang dijalankan?
Kesaktian Pancasila sesungguhnya terletak pada kesediaan bangsa ini meneladani semangat para pendiri yang berintegritas, sederhana, berani, dan berpihak pada rakyat.
Jika mereka mampu membuktikan itu di tengah badai kolonialisme dan Perang Dingin, maka generasi kini pun seharusnya mampu membuktikannya di tengah derasnya kapitalisme global, digitalisasi, dan kompetisi tanpa batas.
Pancasila lahir dari rahim sejarah Indonesia, tetapi nilai universalnya tetap hidup dan sakti untuk membangun dunia yang damai, adil, dan beradab.
Jika dahulu kesaktian Pancasila terbukti menghadapi komunisme, maka kini tugas kita adalah memastikan Pancasila tetap sakti menghadapi gelombang kapitalisme global.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!