Wali Kota: Kunci Wujudkan Bandung Kota Kreatif: Kolaborasi Warga, Seniman, dan Pemerintah
📅 Minggu, 28 Sep 2025, 17:20 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: Humas Kota Bandung
BANDUNG - Kota Bandung terus memperkuat posisinya sebagai kota kreatif dengan menekankan pentingnya kolaborasi lintas elemen, mulai dari warga, komunitas seni, hingga pemerintah. Hal ini tercermin dalam Dialog kebudayaan bersama seniman dan budayawan Kota Bandung, Jumat (26/9).
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyebut Kota Bandung memiliki modal sosial yang kuat untuk terus berkembang sebagai kota kreatif.
Menurut dia, kreativitas warga tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga bisa menjadi jalan keluar untuk berbagai persoalan kota.
“Kreativitas harus menjadi energi bersama. Pemerintah hadir bukan untuk mengatur secara kaku, tetapi memfasilitasi agar ide-ide warga bisa tumbuh dan memberi manfaat luas,” ujar dia di Pendopo.
Senada dengan itu, Pengamat Budaya sekaligus Kurator Seni, Heru Hikayat, menilai keberhasilan Bandung sebagai kota kreatif terletak pada kemampuannya merawat ruang pertemuan antara masyarakat, seniman, dan pemangku kebijakan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia mendorong agar kebijakan pembangunan tidak hanya berbasis infrastruktur, tetapi juga nilai-nilai budaya yang menjadi karakter kota.
“Budaya bukan sekadar tontonan atau komoditas. Budaya adalah cara kita menjaga kehidupan bersama, toleransi, dan keberagaman,” ungkap Heru.
Sementara itu, Pegiat Budaya dan Seni Tari, Keni K Soeriaatmadja, menyebut pentingnya peran middle ground dalam ekosistem kreatif Kota Bandung.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut dia, ada tiga lapisan dalam masyarakat kreatif: underground (seniman dan kreator), upper ground (pemerintah dan pemangku kebijakan), serta middle ground yang berfungsi sebagai jembatan keduanya.
“Yang sering terlupa adalah middle ground yaitu pihak yang bisa memahami bahasa pemerintah tapi juga mengerti nilai-nilai ideologis seniman. Bandung butuh peran ini agar kolaborasi berjalan lebih sehat,” kata Keni.
Ia menambahkan, budaya harus ditempatkan sebagai nilai dasar pembangunan, bukan sekadar penghias atau pencapaian formal. Salah satunya dengan menjadikan toleransi sebagai haluan utama dalam rencana pembangunan daerah.
“Budaya bukan benda, bukan sekadar indeks kemajuan kebudayaan. Budaya adalah indeks kemajuan manusia. Orang Bandung harus tahu rasanya jadi orang Bandung, dengan segala keberagaman di dalamnya,” tutur dia.
Forum tersebut juga menghadirkan sejumlah pihak di bidang seni budaya, antara lain Ahda Imran (sastrawan) juga Zulfa Nasrulloh (sastrawan).
Lewat kolaborasi lintas pihak, Pemkot Bandung berharap nilai-nilai budaya dan kreativitas bisa menjadi dasar pembangunan Kota Bandung. Dengan begitu, Bandung bukan hanya dikenal sebagai kota kreatif, tetapi juga sebagai kota yang toleran, inklusif, dan mampu menghadirkan kemajuan bagi seluruh warganya. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!