Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ahli UGM: Kasus Keracunan MBG Dipicu Lemahnya Pengawasan dan Target Terburu-buru

📅 Jumat, 26 Sep 2025, 17:35 WIB | Oleh:
Ahli UGM: Kasus Keracunan MBG Dipicu Lemahnya Pengawasan dan Target Terburu-buru Doc: Dok. Antara

YOGYAKARTA – Kasus keracunan yang kembali terjadi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu perhatian luas, mulai dari masyarakat hingga kalangan akademisi. Guru Besar Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, M.Sc., menilai akar persoalan terletak pada lemahnya pengawasan serta ambisi besar pemerintah yang dikejar dalam waktu singkat.

Sejak diluncurkan pada Januari 2025, program MBG telah menyebabkan ribuan siswa mengalami keracunan di sejumlah daerah, antara lain di Baubau, Banggai, dan Garut. Alih-alih meningkatkan status gizi, kejadian tersebut justru menimbulkan pertanyaan publik mengenai kesiapan pengelolaan program.

Menurut Prof. Sri, target pemerintah untuk menjangkau 80 juta siswa pada tahun pertama, sebagaimana disampaikan Presiden Prabowo di Istana Negara, terkesan terburu-buru. “Istilahnya too much too soon, apalagi membangun 30 ribu unit dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membutuhkan biaya, tenaga, dan sistem yang tidak kecil,” ujarnya, Jumat (26/9) di Kampus UGM.

Ia menekankan, kualitas dan keamanan pangan seharusnya menjadi prioritas utama. Kasus keracunan berulang, kata dia, menunjukkan fungsi pengawasan sejak awal tidak berjalan optimal. Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai lembaga baru belum memiliki sumber daya manusia yang memadai, sementara SPPG di lapangan juga belum sepenuhnya siap.

“Jika siswa yang ditargetkan semakin banyak, jumlah SPPG semakin hari juga semakin banyak, tetapi pengawasannya tetap lemah, hal ini relevan dengan kasus keracunan yang meningkat. Apalagi memasak ribuan porsi dalam waktu singkat berpotensi membuat makanan yang tidak matang merata hingga risiko adanya zat beracun dan bakteri patogen yang masih hidup,” jelasnya.

Prof. Sri mengingatkan, kegagalan dalam pengelolaan MBG akan berdampak panjang. Selain menurunkan kepercayaan publik, keracunan berulang dapat memicu gangguan kesehatan anak, mulai dari diare hingga hilangnya nafsu makan. Kondisi ini, ujarnya, jelas bertolak belakang dengan tujuan awal program meningkatkan gizi.

Lebih jauh, ia menilai keberadaan payung hukum menjadi penting untuk menjamin keamanan program MBG. “Idealnya ada aturan khusus yang mengatur, seperti di Jepang yang memiliki undang-undang resmi tentang makan siang di sekolah. Namun, pembentukan undang-undang tentu membutuhkan waktu,” paparnya.

Sembari menunggu perbaikan regulasi dan pengawasan, Prof. Sri menegaskan bahwa sekolah dan orangtua memiliki hak untuk menentukan sikap terhadap program MBG. “Jika mereka merasa program belum siap, mereka bisa menolak dan tidak bisa dipidanakan,” tegasnya.

Dengan berulangnya kasus keracunan, ia menekankan perlunya evaluasi menyeluruh dan pendataan status gizi siswa sejak awal hingga akhir tahun pertama pelaksanaan program. “Yang paling penting adalah memastikan kasus keracunan tidak terulang kembali,” pungkas Prof. Sri.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Olahraga
Asian Games: Tim Voli Putra...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.