IHSG Lesu, Terseret Arus Pasar Saham Regional
📅 Kamis, 25 Sep 2025, 17:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Bayu Pratama S
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah hari ini, sejalan dengan tren mayoritas bursa di Asia yang juga terkoreksi.
Pelemahan IHSG lebih mencerminkan sikap defensif investor ketimbang fundamental emiten dalam negeri.
Artinya, meskipun ekonomi domestik relatif stabil, arus modal asing tetap dipengaruhi “mood” pasar global.
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (25/9) sore, ditutup melemah 85,90 poin atau 1,06 persen ke posisi 8.040,66 mengikuti pelemahan bursa saham kawasan Asia.
Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 13,07 poin atau 1,62 persen ke posisi 795,70.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Pelaku pasar terus mempertimbangkan prospek suku bunga bank The Fed,” sebut Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.
Dari mancanegara, pelaku pasar mencermati Amerika Serikat (AS) yang menurunkan tarif mobil Eropa dari sebelumnya 27,5 persen menjadi 15 persen, yang memenuhi janji berdasarkan perjanjian perdagangan AS dan Uni Eropa yang diumumkan pada Juli 2025.
Pemotongan tarif menyusul penerapan undang-undang oleh Komisi Eropa untuk mengurangi bea masuk atas berbagai barang AS, sebuah langkah yang telah ditunggu-tunggu oleh AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan nada hati-hati, dan menekankan tantangan menyeimbangkan inflasi yang persisten dengan pasar tenaga kerja yang melambat.
Sementara itu, para pejabat Fed tetap terpecah, beberapa memproyeksikan dua penurunan suku bunga tambahan tahun ini, sementara yang lain mendukung pendekatan yang lebih terukur dan beberapa menganjurkan pelonggaran yang lebih agresif.
Dari kawasan Asia, bank sentral China (PBOC) menyuntikkan total 600 miliar Yuan ke lembaga keuangan pada 25 September 2025 melalui Fasilitas Pinjaman Jangka Menengah (MLF) satu tahun, yang bertujuan untuk menjaga likuiditas yang memadai dalam sistem perbankan.
Dari dalam negeri, DPR RI secara resmi telah mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 menjadi undang-undang.
Perhatian tertuju terhadap pendapatan negara yang disepakati meningkat tapi tidak signifikan yakni Rp3.153,9 triliun dari Rp3.147,6 triliun, sementara belanja negara mengacu pada RAPBN 2026 sebesar Rp3.786,4 triliun dan naik menjadi Rp3.842,7 triliun ketika disahkan sesuai dengan kesepakatan pemerintah dan Banggar DPR RI. Sehingga, APBN 2026 defisit Rp689,1 triliun.
Dengan melebarnya defisit APBN, tentunya akan memberikan dampak tekanan terhadap stabilitas fiskal, daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi. Pelaku pasar berharap pemerintah melakukan pengelolaan fiskal, penyesuaian prioritas belanja pemerintah dan memperkuat penerimaan
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!