Dalam Sehari Mengeksplorasi Wisata Budaya Bangli Bali
📅 Rabu, 17 Sep 2025, 19:07 WIB | Oleh: OpikKabupaten Bangli juga memiliki desa wisata bernama Penglipuran yang melekat akan pelestarian budayanya.
Terletak di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali, atau berjarak sekitar 45 kilometer arah utara dari Kota Denpasar, Desa Penglipuran menawarkan pengalaman wisata kearifan lokal Bali dalam menjaga keseimbangan budaya dan alam.
Kelian (pemimpin) Desa Adat Penglipuran, I Wayan Budiarta menjelaskan bahwa secara tradisional Penglipuran adalah desa adat yang masih mempertahankan tata pemerintahan tradisional kuno yang tetap dijalankan hingga kini.
Desa adat ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-13. Pada tahun 1990 atas kesepakatan bersama masyarakat adat Penglipuran mulai melakukan penataan pelestarian nilai-nilai budaya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Desa Pengelipuran mulai dibuka menjadi tujuan wisata di tahun 1993, ditandai dengan diterbitkannya Peraturan Bupati yang menetapkan Penglipuran sebagai objek wisata.
I Wayan Budiarta menekankan bahwa eksistensi Penglipuran sebagai destinasi wisata tidak hanya karena peran pemimpin, melainkan berkat komitmen seluruh masyarakatnya untuk tetap menjaga tradisi adat dan budaya.
Sebagai lokasi wisata, Desa Penglipuran mengedepankan konsep pengelolaan community based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Memang dalam administrasi kami menetapkan pengelola kami sebagai pengurus kelompok sadar wisata, anggotanya adalah seluruh masyarakat Penglipuran sehingga inilah yang memegang kekuatan untuk mengatur masyarakat itu sendiri menjadi poin penting,” jelas dia.
Tata ruang tradisional menjadi hal yang ditonjolkan dalam desa wisata Penglipuran dengan konsep Tri Mandala sebagai implementasi dari filosofi Bali Tri Hita Karana.
Pengunjung disuguhkan deretan bangunan tempat tinggal tradisional disusun rapi dan sama yang dilestarikan.
Konsep tata ruang di Desa Penglipuran yang menjadi daya tarik adalah angkul-angkul merujuk gapura atau pintu gerbang menuju area rumah, bale sakenem yang ditopang 6 tiang dan dibangun dari bambu yang berfungsi sebagai pusat kegiatan adat dan menjadi ruang serbaguna keluarga.

Pengunjung memotret meru di Pura Ulun Danu Batur, Kabupaten Bangli. (Antara/Sri Dewi Larasati)
Dapur juga menjadi bangunan penting dalam rumah karena tidak hanya untuk memasak, tapi juga tempat tidur para tetua keluarga. Dapur itu dibangun dengan konsep lebih tinggi dan di sisi utara karena melambangkan gunung sekaligus simbol kehidupan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!