Injeksi Likuiditas di Himbara, Dana Jumbo Harus Jadi Bensin Ekonomi, Jangan Hanya Mengendap
📅 Jumat, 12 Sep 2025, 17:58 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara.
JAKARTA – OJK menegaskan tetap mengawasi efektivitas pengelolaan dana pemerintah di lima bank Himbara sebagai upaya menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus memastikan penyaluran likuiditas benar-benar mendukung perekonomian riil.
Pengawasan ini penting untuk mencegah risiko moral hazard, memastikan dana tidak hanya memperkuat neraca bank tetapi juga mengalir ke sektor produktif, khususnya UMKM dan proyek strategis.
Dengan kontrol yang ketat, OJK berupaya menjaga keseimbangan antara dukungan fiskal dan disiplin tata kelola agar dana negara memberi dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan terus mendukung efektivitas pengelolaan dana pemerintah Rp200 triliun yang ditempatkan di lima bank umum melalui pengawasan terhadap perbankan, sehingga penyaluran kredit meningkat namun tetap prudent.
“OJK juga meminta perbankan untuk tetap menerapkan manajemen risiko yang terukur dalam penyaluran kredit agar kualitas kredit perbankan tetap terjaga, dan dana masyarakat/pemerintah tetap terjaga dengan aman,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam jawaban tertulis di Jakarta, Jumat (12/9).
Sebaiknya Anda baca juga:
Secara umum, Dian menyampaikan bahwa OJK sangat menghargai langkah pemerintah dalam mengoptimalkan pengelolaan dana negara untuk mendukung perbankan dan perekonomian nasional.
OJK berharap penempatan dana tersebut dapat mendorong penurunan biaya dana (cost of fund/CoF) perbankan yang dapat memengaruhi penurunan suku bunga kredit, sehingga menjadi stimulus pertumbuhan kredit dalam mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi pemerintah.
Ia menekankan pertumbuhan kredit perbankan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan likuiditas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Laju kredit juga sangat bergantung pada faktor eksternal, seperti kuatnya permintaan pembiayaan dari dunia usaha, prospek pertumbuhan ekonomi nasional, stabilitas keamanan dan politik, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia untuk memenuhi kebutuhan berbagai sektor ekonomi, serta faktor-faktor eksternal.
Sebagai catatan, likuiditas perbankan saat ini dalam kondisi baik tercermin dari rasio AL/NCD sebesar 119,43 persen dan AL/DPK sebesar 27,09 persen pada Juli 2025, jauh di atas threshold minimal masing-masing 50 persen dan 10 persen.
“Dengan demikian, penguatan di seluruh aspek tersebut menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui penyaluran kredit yang tinggi dan berkelanjutan,” tegas Dian.
Dian menyampaikan ekonomi Indonesia masih solid di tengah dinamika global maupun domestik.
Pada kuartal II 2025, pertumbuhan mencapai 5,12 persen yoy, melampaui ekspektasi 4,8 persen.
Kinerja manufaktur juga kembali ekspansif dengan PMI 51,5 pada Agustus 2025 setelah empat bulan kontraksi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!