Dua Mesin Ekonomi Dioptimalkan untuk Memacu Pertumbuhan Lebih Tinggi
📅 Kamis, 11 Sep 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiMenanggapi kebijakan taktis Menkeu tersebut, pakar ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, menilai langkah tersebut sebagai strategi yang bisa membuka ruang lebih besar bagi perbankan untuk menyalurkan pembiayaan.
“Kebijakan Menkeu Purbaya patut diapresiasi, karena bisa meningkatkan likuiditas perbankan dan memperkuat pembiayaan sektor riil,” kata Aloysius.
Apalagi, kondisi pertumbuhan pinjaman (kredit) perbankan saat ini melambat menjadi 7,03 persen pada Juli 2025, laju terendah sejak Maret 2022. Hal itu lebih banyak disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat, menciutnya kelas menengah, serta sikap hati-hati perbankan dalam menyalurkan kredit.
Dengan kebijakan Menkeu baru itu menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali dua mesin utama perekonomian melalui pembiayaan swasta dan pembiayaan pemerintah.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kalau faktor daya beli dan kelas menengah bisa segera diperkuat, injeksi dana 200 triliun rupiah ini akan benar-benar menjadi motor pertumbuhan. Kuncinya sekarang adalah memastikan daya beli masyarakat pulih, sehingga tambahan likuiditas benar-benar terserap dan memberi efek berganda bagi perekonomian,” kata Aloysius.
Di kesempatan berbeda, peneliti ekonomi Core, Yusuf Rendi Manilet mengatakan, dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi, keterlibatan sektor swasta merupakan langkah positif. “APBN tidak dapat bekerja sendiri, tetap memerlukan sinergi dengan sektor swasta agar kebijakan dari kedua sisi dapat saling melengkapi dan menggerakkan perekonomian secara optimal,” kata Rendi.
Ia pun berharap injeksi likuiditas sebesar 200 triliun rupiah ke perbankan bisa dioptimalkan untuk mendorong sektor riil meningkatkan produktivitas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Direktur Mubyarto Institute, Awan Santosa, sepakat dengan kebijakan Menkeu Purbaya, namun dia menyarankan agar Kemenkeu ikut mendorong investasi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang terbukti dapat menciptakan lebih banyak lapangan kerja.
“Menkeu perlu memunculkan berbagai terobosan agar invetasi UMKM ini lebih berkembang lagi,” kata Awan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!