Jelantah Jadi Rupiah: Bisnis Ramah Lingkungan yang Makin Dilirik
📅 Senin, 01 Sep 2025, 11:35 WIB | Oleh: Tim PenulisInovasi yang membawa berkah
Fenomena yang patut menuai apresiasi dari inovasi avtur berbahan bakar minyak jelantah adalah masifnya keterlibatan akar rumput; menyiratkan pesan bahwa transisi ke energi hijau tak hanya bersandar kepada pembuat kebijakan maupun pengusaha di sektor energi selaku sektor penghasil emisi tertinggi.
Perusahaan pelat merah itu menunjukkan kemampuannya dalam merangkul masyarakat yang berasal dari berbagai elemen, baik ibu rumah tangga, pekerja restoran, pengelola hotel, kafe, dan pengusaha UMKM agar terlibat dalam pengembangan avtur ramah lingkungan ini.
Saat ini, terdapat 35 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang menjadi titik pengumpulan minyak bekas pakai itu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Rencana penambahan titik pengumpulan minyak jelantah diyakini dapat memberi ruang bagi masyarakat luas untuk turut berpartisipasi dalam transisi energi dan mencintai lingkungan, sebagaimana yang dirasakan oleh Sri Widowati (75).
Sri merupakan salah satu local hero (pahlawan lokal Pertamina) di Cilacap yang secara aktif mengedukasi masyarakat ihwal bahaya minyak jelantah apabila dibuang sembarangan, seperti pencemaran tanah dan air, serta penyumbatan saluran air yang dapat menyebabkan banjir.
Wanita pensiunan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) itu bahkan mengelola Bank Sampah Beo Asri untuk menjadi tempat warga Kelurahan Tegalreja mengumpulkan minyak jelantahnya.
Meski Bank Sampah Beo Asri hanya membeli minyak jelantah seharga Rp5 ribu per kg, nyatanya hal tersebut berhasil menjadi motivasi agar masyarakat tidak membuang minyak bekas dengan sembarangan. Kini, bank sampah yang dikelola Sri telah memiliki lebih dari 2 ribu nasabah.
Tak hanya mengedukasi soal bahaya lingkungan, Sri juga meningkatkan kesadaran masyarakat soal efek negatif terhadap kesehatan bila menggunakan minyak goreng berulang kali hingga berwarna hitam.
Berdasarkan World Health Organization (WHO), penggunaan minyak goreng yang dipanaskan berulang kali dapat menyebabkan diabetes tipe II, penyakit jantung, kanker, hingga penumpukan lemak berlebihan di dalam sel-sel hati.
“Mereka tuh pake minyak kadang sampai hitam sekali. Itu kan untuk kesehatan kurang bagus. Sekarang dipakai sedikit-sedikit bisa dikumpulkan jadi uang,” kata Sri ketika ditemui di Bank Sampah Beo Asri.
Dengan demikian, pembelian minyak jelantah oleh Bank Sampah Beo Asri tak hanya mendatangkan manfaat bagi lingkungan dan menggerakkan perekonomian masyarakat Tegalreja, tetapi juga berdampak positif bagi kesehatan masyarakat.
Kesadaran tersebut melandasi dukungan Sri terhadap Pertamina untuk mengembangkan avtur dari minyak jelantah dengan lebih masif.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!