Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Putin, Modi, dan Xi Jinping Hadiri KTT SCO di Tianjin: Simbol Perubahan Arah Geopolitik Global

📅 Minggu, 31 Agu 2025, 19:15 WIB | Oleh:
Putin, Modi, dan Xi Jinping Hadiri KTT SCO di Tianjin: Simbol Perubahan Arah Geopolitik Global Doc: Reuters
Ket. Para menteri pertahanan dari berbagai negara, termasuk Tiongkok, India, Iran, Kazakhstan, Kirgistan, Pakistan, dan Rusia, bertepuk tangan setelah berfoto bersama, menjelang Pertemuan Menteri Pertahanan Organisasi Kerja Sama Shanghai

JAKARTA — Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri India Narendra Modi menjadi bagian dari lebih dari 20 pemimpin dunia yang menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Tianjin, Tiongkok. Forum ini kini menjadi blok regional terbesar di dunia berdasarkan populasi, dengan keanggotaan yang semakin meluas mencakup Asia, Eropa, hingga Timur Tengah.

Didirikan pada 2001 oleh Tiongkok, Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, dan Uzbekistan, SCO awalnya berfokus pada isu Asia Tengah. Namun, dalam dua dekade terakhir, perhatian organisasi ini meluas hingga mencakup berbagai isu global, menjadikannya bagian penting dari “arsitektur tata kelola internasional paralel” yang dikembangkan Beijing.

Eric Olander, pemimpin redaksi China-Global South Project, menyebut bahwa SCO berfungsi sebagai ruang alternatif bagi dialog dan kerja sama di luar sistem internasional yang dipimpin Amerika Serikat. Menurutnya, meski sebagian besar bersifat simbolis, forum ini memberi kesempatan negara anggota untuk menyampaikan keluhan dan membangun konsensus bersama.

“Ini merupakan kesempatan berharga untuk mempertemukan para pemimpin global dalam forum di mana mereka dapat berbagi keluhan bersama,” kata Olander kepada Al Jazeera.

Pertemuan di Tianjin kali ini juga dibayangi ketegangan akibat perang dagang Presiden AS Donald Trump terhadap banyak negara, termasuk sekutunya sendiri. Kondisi ini diperkirakan membuat para peserta menemukan lebih banyak titik temu dibandingkan perbedaan.

Daftar tamu yang hadir mencakup sosok kontroversial seperti Putin yang masih dicari Mahkamah Kriminal Internasional atas tuduhan kejahatan perang, hingga pemimpin Belarus Alexander Lukashenko. Turut hadir pula Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, yang menambah bobot diplomasi forum ini.

Namun, dinamika antar anggota tetap penuh ketegangan. Rivalitas India dengan Pakistan, ketegangan India dengan Tiongkok, persaingan Arab Saudi dengan Iran, serta gesekan Asia Tengah dengan Tiongkok dan Rusia menciptakan kompleksitas tersendiri.

“Ada dinamika kompleks yang terjadi di sini. Di balik foto keluarga bahagia itu ada banyak sekali tatapan mata,” ujar Olander.

Dalam beberapa tahun terakhir, SCO memperluas keanggotaannya dengan memasukkan India, Pakistan, Iran, dan Belarus sebagai anggota penuh. Sementara Afghanistan dan Mongolia berstatus pengamat, serta 14 negara lain seperti UEA, Arab Saudi, Turki, Qatar, dan Sri Lanka menjadi mitra dialog resmi.

Asia Tenggara juga menjadi sorotan dalam KTT kali ini. Lima kepala negara dari kawasan hadir, termasuk Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Presiden Indonesia Prabowo Subianto, dan Sekjen ASEAN Kao Kim Hourn.

Claus Soong, analis dari Mercator Institute di Jerman, menilai perhatian besar tertuju pada dinamika antara Presiden Xi Jinping dan Narendra Modi. Keduanya terakhir kali bertemu tujuh tahun lalu, dan kini hubungan India-Tiongkok tengah diuji setelah ketegangan perbatasan serta dampak perang dagang Trump.

“Kuncinya adalah melihat bagaimana Tiongkok mencirikan hubungannya dengan India setelah kunjungan tersebut dan bagaimana hubungan antara Tiongkok dan India membaik,” kata Soong.

Sementara itu, SCO juga akan menjadi ajang pertemuan pertama antara Xi Jinping dan Putin sejak pertemuan Putin dengan Trump di Alaska awal bulan ini. Para pengamat menilai bahasa diplomasi kedua pemimpin akan menjadi indikator arah hubungan Tiongkok-Rusia ke depan.

Pada 2022, hanya beberapa minggu sebelum invasi Rusia ke Ukraina, kedua negara mendeklarasikan “kemitraan tanpa batas”. Sejak itu, Beijing memainkan peran vital dalam menopang perekonomian Rusia meski belum terkena sanksi berat seperti India.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.