Bukit Batu Daya, Monolit Raksasa Sisa Intrusi Magma Purba
📅 Jumat, 29 Agu 2025, 07:58 WIB | Oleh: Haryo BronoSetelah magma membeku menjadi granit, lapisan tanah dan batuan penutup di atasnya terus mengalami erosi oleh hujan, angin, dan pelapukan oleh sinar matahari. Karena granit lebih keras dibandingkan batuan di sekitarnya, maka bagian granit ini tersisa sebagai tonjolan di permukaan.
Proses geologi seperti ini menghasilkan apa yang disebut “inselberg,” bukit tunggal yang menonjol di dataran rendah atau disebut juga monolit. Tapi sayangnya dataran rendah di sekitarnya tidak lagi berupa hutan seperti di Bukit Kelam namun kini telah berubah menjadi hamparan perkebunan tanaman sawit.
Bentuknya yang bulat dan halus terjadi karena proses spheroidal weathering atau pelapukan melingkar pada granit. Seiring waktu, rekahan alami di dalam granit terkikis oleh air dan suhu tropis yang panas dan lembah, membuat sisinya membulat seperti kubah atau tidak lagi meruncing.
Boleh dikatakan Batu Bukit Daya adalah hasil dari magma purba yang membeku jauh di bawah tanah, lalu terkuak dan menonjol ke permukaan karena proses erosi selama jutaan tahun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Batu Bukit Daya menjadi bukti bahwa pada masa purba, Pulau Kalimantan juga memiliki gunung-gunung api aktif. Selama jutaan tahun gunung-gunung berapi itu mengalami proses kematian disusul pelapukan, yang jejaknya kini tidak lagi mudah terlihat.
Mitos
Selain penampakan yang unik, Bukit Batu Daya juga punya mitos yang beredar di masyarakat sekitar. Kono dahulu ada seorang ibu serta anaknya yang berusia 3 tahun tinggal di wilayah tersebut. Daya demikian namanya harus hidup berdua karena suaminya sudah meninggal sejak Daya belum lahir.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena mereka hanya berdua saja, jadi si ibu selalu mengajak anaknya kemanapun dia pergi. Suatu hari, mereka pergi ke sungai untuk mencuci baju. Si ibu menyuruh Daya menunggu di atas sungai sampai dia selesai mencuci.
Saat sibuk membersihkan baju, Daya memanggil-manggil ibunya karena ada masalah yang dihadapi. Sayang sekali, ibunya tidak pernah bisa mendengar panggilan tersebut sampai ia tidak lagi dapat berucap sepenuhnya.
Ketika sang ibu ketika menoleh ke arah batu tempat dia menyuruh Daya menunggu, tiba-tiba anak itu sudah berubah menjadi batu yang sangat besar dan tinggi seperti gunung. Dari cerita inilah yang juga membuat bukit ini dinamakan Batu Bukit Daya.
Sampai saat ini masyarakat Bukit Batu Daya selalu mengadakan ritual secara rutin setiap tahunnya sebagai warisan kearifan lokal. Mereka yakin, bukit tersebut adalah bukit keramat yang keberadaannya harus dijaga. Selain itu, ritual tersebut juga merupakan usaha untuk melestarikan warisan budaya leluhurnya.
Untuk bisa sampai ke Bukit Batu Daya bisa lewat Kota Pontianak dengan menggunakan jalur darat menuju ke Aur Kuning. Perjalananan ini menempuh waktu melalui Sungai Laur selama 4-5 jam. Jika ingin beristirahat di wilayah ini terdapat beberapa penginapan yang bisa disewa untuk beristirahat.
Dari ibu kota Sungai Laur harus menempuh perjalanan lagi sekitar 1 jam ke lokasi bukitnya. Pemerintah setempat merekomendasikan wisatawan menggunakan jalur darat karena aksesnya lebih mudah dan waktu tempuhnya lebih cepat, sehingga masih memiliki tenaga untuk menjelajahinya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!