Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

“Telur Kosmik” di ArtJog, Kritik Faisal Kamandobat atas Pembangunan yang Pinggirkan Desa

📅 Rabu, 20 Agu 2025, 20:30 WIB | Oleh:
“Telur Kosmik” di ArtJog, Kritik Faisal Kamandobat atas Pembangunan yang Pinggirkan Desa Doc: Eko S

Yogyakarta – Seniman Faisal Kamandobat menghadirkan karya monumental berjudul “Endog Jagad: Serat Nubuwat Kiai Jembar Manah” atau “Telur Kosmik” dalam ArtJog 2025 di Jogja National Museum (JNM). Lewat gulungan manuskrip iluminasi Arab Pegon sepanjang 14 meter dan lebar 1,5 meter, Faisal tidak hanya menampilkan karya seni rupa, tetapi juga menyuarakan kritik atas arah pembangunan nasional yang menurutnya mengabaikan desa.

“Desain pembangunan nasional tidak menempatkan desa dalam proporsi yang tepat. Akhirnya, desa jadi habis,” kata Faisal dalam diskusi publik di JNM, Selasa (19/8).

Riset Desa dan Macapat

Karya tersebut lahir dari riset di Desa Karanggedang, Cilacap, tempat keluarganya mengelola pesantren. Faisal melibatkan santri untuk mewawancarai orang tua mereka, menggali sejarah desa, dan merekam pengetahuan lokal. Hasil riset kemudian dikembangkan menjadi narasi visual dan teks yang merekontekstualisasi tembang macapat, dari Maskumambang hingga Pocung.

Dengan struktur macapat, Faisal membangun kerangka siklus hidup manusia sekaligus perjalanan masyarakat desa. “Macapat bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga sarana pendidikan,” ujarnya.

Kosmologi Jawa dalam Visual

Gulungan manuskrip disertai lukisan bentangan pegunungan dari Gunung Slamet hingga Galunggung, digarap dengan teknik melukis Sokaraja khas Banyumas. Visual ini, menurut Faisal, merekam hubungan manusia dengan alam sekaligus kosmologi Jawa. “Ada alam yang sudah tidak ada, tapi gemanya masih sampai sekarang,” katanya.

Transcreation ke Bahasa Global

Teks berbahasa Jawa dalam aksara Arab Pegon diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan Inggris oleh peneliti sekaligus penerjemah Welda Sanavero. Ia menyebut prosesnya sebagai transcreation, bukan sekadar alih bahasa.

“Saya harus masuk untuk mengenal kembali sense of myself. Tanpa itu mustahil menerjemahkan,” ungkap Welda. Menurutnya, karya ini bukan hanya history of art, melainkan juga history of sense yang membawa nilai universal tentang keseimbangan dan harmoni.

Karya yang Hidup Bersama Warga

Bagi Faisal, karya seni tidak boleh berhenti di ruang pamer. Telur Kosmik melibatkan santri dalam proses menulis dan melukis, hingga akhirnya kembali ke desa. Bahkan, warga setempat pernah meminjamnya sebagai latar pernikahan.

Welda menyebut karya ini sebagai living vision—karya seni yang terus hidup bersama masyarakat. Faisal menambahkan, “Saya ingin karya ini jadi sesuatu yang ditulis setiap hari.”

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
  • Kemenperin Pacu Industri Halal Tembus Pasar Global Lewat Halal Indo 2026
    Langkah mendorong penyerapan 60 persen vendor lokal di ...
  • Bukan Sekadar Ekspor, Industri Pangan Indonesia Kejar Posisi di Rantai Nilai Global
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai posisi manufaktur Indonesia ...
  • Industri Besar di Kaltim Didorong Wajib Serap 60 Persen Vendor dan UMKM Lokal.
    Langkah Komisi VII DPR RI dalam mendorong regulasi ...
Advertisement
Art Jakarta Detail Sidebar

Indonesia Tertinggal 0-2 dari Tiongkok

56 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Indonesia Tertinggal 0-2 da...
Olahraga
Atlet Angkat Besi Saatnya U...
Megapolitan
Enam Desa Wisata Ditetapkan...
Advertisement
Pascabanjir Arosuka, Operasional AKAP di Terminal Tipe A Bareh Solok Tetap Berjalan Normal

Pascabanjir Arosuka, Operasional AKAP di Terminal Tipe A Bareh Solok Tetap Berjalan Normal

23 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.