Tren 'Influencer' Sekarang: Asal Klaim Penghargaan Agar Tampak Pintar
📅 Jumat, 08 Agu 2025, 12:00 WIB | Oleh: Tim PenulisUntuk penghargaan Listen to Her Parole tahun ini, beberapa orang mendapatkannya. Sebut saja Nadine Nassib Njeim, aktris dari Lebanon yang masuk nominasi best actress di Festival Film Seoul, dan juga Dewi Sukarno yang menjadi pengusaha dan politisi di Jepang.
Syahrini sendiri mendapatkan penghargaan atas kiprahnya sebagai “Global Icon of Excellence in Entertainment and Philanthropy”.
Terlepas dari bobot penghargaan ini, keputusan Syahrini untuk mengaitkan Listen to Her Parole dengan UNESCO merupakan strategi untuk menjadikan pencapaiannya lebih viral.
Publik bisa apa?
Sebaiknya Anda baca juga:
Di tengah informasi yang dikemas sedemikian rupa oleh influencer, bagaimana publik bisa memahami dan membedakan klaim kesuksesan?
Tenaga kerja glamor
Publik perlu memahami bahwa pekerjaan sebagai influencer merupakan ‘glamour labour’ (tenaga kerja glamor). Mereka akan selalu terikat dengan audiens dan selalu berusaha mencari perhatian.
Sebaiknya Anda baca juga:
Identitas mereka telah bertransformasi dan beradaptasi sesuai dengan kebutuhan audiens atau norma media sosial.
Bahwa influencer A tampak baik dan suka bersedekah, belum tentu sifatnya sama di dunia nyata. Atau si B tampaknya kurang disukai banyak orang, tapi bisa jadi aslinya dia adalah sosok penyayang di rumah.
Tidak ada identitas yang bersifat mutlak di sosial media, karena semuanya merupakan hasil kesepakatan norma.
Ini termasuk dorongan untuk mentransformasi identitas influencer yang selama ini dianggap hanya menyukai kemewahan dan kurang berprestasi. Bisa melalui filantrofi atau donasi seperti yang dilakukan Syahrini, atau mengemas kunjungan biasa menjadi luar biasa seperti yang dilakukan para influencer di China.
Narasi diri yang performatif
Publik juga harus paham bahwa identitas influencer seringkali bersifat performative. Artinya, mereka merepresentasikan narasi identitas berdasarkan keinginan publik. Tekanan kapital yang muncul dari norma media sosial menciptakan kebingungan pada influencer terkait identitas asli mereka.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!