Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tren 'Influencer' Sekarang: Asal Klaim Penghargaan Agar Tampak Pintar

📅 Jumat, 08 Agu 2025, 12:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Tren 'Influencer' Sekarang: Asal Klaim Penghargaan Agar Tampak Pintar Doc: Instagram
Ket. Syahrini mengaku memperoleh penghargaan dari UNESCO dalam unggahan pribadinya di media sosial.

Ina Ratriyana, Monash University

Mei 2025 kemarin, beredar kabar bahwa Syahrini menerima penghargaan dari UNESCO. Hal ini sontak memicu reaksi beragam dari netizen.

Rupanya, penghargaan tersebut diberikan oleh Listen to Her Parole, sebuah program dari United Society Council (USC) yang didukung oleh Guila Clara Kessous, seniman Prancis penerima penghargaan UNESCO Artist for Peace.

Jadi, Syahrini bukan menerima dari UNESCO secara langsung.

Namun, modus mengaku menerima penghargaan internasional seperti UNESCO bukanlah praktik baru di kalangan artis dan influencer. Pada 2022, 20 influencer dan 15 merek lokal mengaku disponsori Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAF) untuk tampil di Paris Fashion Week.

Tak selang lama, terkuak bahwa para influencer tersebut bukan menjadi bagian dari Paris Fashion Week. Mereka menghadiri event tersendiri yang diselenggarakan oleh Fashion Division, organisasi promotor desainer Asia Tenggara dalam kolaborasi internasional.

Klaim serupa juga sempat muncul pada kasus Livi Zheng, filmmaker muda Indonesia yang mengaku menembus seleksi Oscar. Pernyataan Livi bahwa film produksinya ‘Brush with Danger’ lolos nominasi Oscar hanyalah branding yang berlebihan (overbranding).

Praktik ini bukannya tidak disadari oleh para influencer. Mereka sengaja mengemas kegiatan sedemikian rupa agar mendorong key trafficjumlah pengunjung Facebook, Instagram, Twitter, maupun TikTok yang kemudian terhubung dalam metrik analisis media sosial.

Selain itu, praktik ini juga bertujuan untuk mengubah identitas influencer yang selama ini cenderung dianggap hanya menyukai kemewahan dan kurang berprestasi dengan ‘membeli’ status atau award.

Pasalnya, status merupakan kategorisasi yang penting dalam pembentukan identitas di media sosial. Self-Categorisation Theory (teori kategorisasi diri menyatakan bahwa identitas sosial berada dalam mekanime kelompok.

Dengan ‘bergaul’ dengan orang-orang UNESCO, para influencer ingin menyatakan bahwa mereka punya kapasitas yang sama dengan orang-orang di institusi tersebut.

Di mana-mana sama

Praktik klaim penghargaan juga terjadi di Cina. Para influencer berlomba-lomba menunjukkan undangan untuk hadir bahkan memberikan pidato khusus di UN Headquarter New York.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Nasional
Roy Suryo Ajukan Praperadil...

Bunga Tinggi The Fed Bikin Mental Rupiah Keder

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Ekonomi
Bunga Tinggi The Fed Bikin ...

Perluasan Pasar Bisa Melalui Mekanisme Digital

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Perluasan Pasar Bisa Melalu...
Megapolitan
Pembangunan SDM, Sekolah-se...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.