Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Sektor Informal Jadi ‘Mesin Diam-Diam’ Pendorong Ekonomi Q2

📅 Jumat, 08 Agu 2025, 22:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Sektor Informal Jadi ‘Mesin Diam-Diam’ Pendorong Ekonomi Q2 Doc: Antara.
Ket. Tanpa sektor informal, ekonomi Q2 bisa tersendat.

JAKARTA - Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research, Pranjul Bhandari, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,12 persen yoy pada kuartal II 2025 turut ditopang oleh meningkatnya konsumsi pekerja sektor informal. 

Kenaikan daya beli kelompok ini menjadi faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan, terutama di tengah ketidakpastian global. 

Menurutnya, peran sektor informal yang besar dalam perekonomian Indonesia menunjukkan bahwa strategi pemberdayaan dan perluasan akses pembiayaan bagi segmen ini dapat memberikan dampak signifikan terhadap keberlanjutan pertumbuhan.

“Ketika data PDB kuartal II dirilis beberapa hari lalu, yakni 5,1 persen, lebih tinggi dari 4,9 persen pada kuartal I, kami tidak terkejut. Banyak yang bertanya, apakah ekonomi Indonesia benar-benar meningkat? Jawaban saya, ya, jika melihat sektor informal dan konsumen massal, kondisinya membaik dibanding tahun lalu,” kata Pranjul dalam media briefing secara daring di Jakarta, Jumat (8/8).

Pranjul menjelaskan pekerja sektor informal di Indonesia umumnya terkait dengan aktivitas pertanian dan usaha kecil yang mencakup 60 persen tenaga kerja nasional dan 55 persen porsi konsumsi.

HSBC Global Research menemukan bahwa pekerja sektor informal, sensitif terhadap harga, cenderung meningkatkan konsumsi ketika inflasi menurun.

Selain itu, dukungan dua paket stimulus fiskal dan kenaikan produksi pertanian turut memperkuat tren kenaikan konsumsi kelompok ini.

Di sisi lain, konsumsi pada pekerja formal terlihat melemah. Pekerja sektor formal, yang terkait dengan perusahaan besar dan memiliki keamanan kerja lebih baik, mewakili 40 persen tenaga kerja dan 45 persen konsumsi.

“Ini (sektor informal) memberikan kestabilan pada konsumsi, meski konsumsi kelas atas lebih lemah yang terlihat dari masih lemahnya penjualan mobil penumpang, transaksi kartu kredit, dan impor barang tahan lama. Namun konsumsi massal membaik, dan inilah yang menjaga angka PDB tetap kuat pada kuartal II di akhir Juni,” jelas Pranjul.

Meski pertumbuhan ekonomi pada kuartal II positif, Pranjul mengingatkan bahwa hal ini belum cukup karena kesenjangan output (output gap) yang masih negatif. HSBC Global Research mencatat, PDB Indonesia sekitar 7,5 persen di bawah tren pra-pandemi.

“Kita butuh pertumbuhan lebih tinggi dalam jangka panjang untuk menutup gap ini. Pertumbuhan ekonomi kuartal II adalah awal yang baik, tetapi kita butuh angka yang lebih tinggi lagi pada kuartal-kuartal berikutnya,” kata Pranjul.

Untuk menjawab tantangan tersebut, menurutnya, investasi korporasi harus meningkat agar kapasitas ekonomi tumbuh dan mampu menciptakan lapangan kerja dengan upah yang tinggi.

“Saat ini, investasi korporasi belum tinggi. Banyak perusahaan yang lebih memilih menabung daripada berinvestasi. Pertanyaannya, apa yang dapat mendorong mereka untuk berinvestasi? Ini menjadi tantangan, tidak hanya bagi Indonesia, tapi bagi banyak negara lain,” kata Pranjul.

Ia menilai ketidakpastian tarif, termasuk tarif tinggi AS terhadap negara ASEAN, berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek, namun menjadi peluang dalam jangka menengah seiring pergeseran rantai pasok global.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Olahraga
Liverpool Gagal Menang di A...
Luar Negeri
Selamat Datang di Festival ...
Daerah
Kebakaran Kawah Ijen Sudah ...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.