Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kemendukbangga: Perbanyak Pekerja Formal agar Bonus Demografi Tak Jadi Beban!

📅 Sabtu, 26 Jul 2025, 23:32 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Kemendukbangga: Perbanyak Pekerja Formal agar Bonus Demografi Tak Jadi Beban! Doc: istimewa
Ket. Sekretaris Kemendukbangga/Sekretaris Utama BKKBN Prof. Budi Setiyono (dua dari kiri) dalam Orientasi Program Kependudukan, Pembangunan Keluarga dan Keluarga Berencana Bagi Jurnalis Tahun 2025 di UPT Balai Diklat KKB, Ambarawa, Semarang, 25-27 Juli

SEMARANG-Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) berharap agar bonus demografi yang tengah dinikmati RI tidak menjadi beban demografi, namun bisa diandalkan untuk mendorong pertumbuhan dan mengentas kemiskinan.

Sekretaris Kemendukbangga/Sekretaris Utama BKKBN Prof. Budi Setiyono mengatakan, agar bonus demografi memberi manfaat kuncinya pada perencanaan pembangunan berbasis kependudukan.

"Saat ini penduduk yang bekerja di sektor formal baru sekitar 42-persen dari total penduduk. Padahal idealnya di atas 70 persen,"ungkapnya dalam Orientasi Program Kependudukan, Pembangunan Keluarga dan Keluarga Berencana Bagi Jurnalis Tahun 2025 di UPT Balai Diklat KKB, Ambarawa, Semarang, 25-27 Juli.

Karena itu Prof Budi mendorong agar penduduk usia produktif yang bekerja di sektor formal semakin banyak agar bonus demografi ini memberi manfaat.

Apabila semakin banyak penduduk yang bekerja di sektor formal maka kontribusi ke fiskal juga bakal meningkat karena semakin banyak yang membayar pajak. "Kontribusi pajak di kita masih sekitar 10 persen beda dengan Finlandia, atau Singapura yang di atas 50 persen,"ucapnya.

Kalau banyak di sektor informal berarti kontribusi mereka ke fiskal itu sedikit. "Misalnya tukang becak, tukang kopi keliling, tukang tambal ban. Mereka ga bayar pajak, juga ga punya jaminan sosial,"ungkapnya.

Kata Budi, apabila banyak penduduk usia produktif yang tidak bekerja maka ada potensi bonus demografi menjadi bencana demografi. "Itu bisa timbulkan masalah sosial, misalnya mereka suka ngambil barang orang, bikin masalah dimana mana. Kenapa itu terjadi karena banyaknya tuntutan yang harus mereka penuhi. Misalnya kalau tamat kuliah akan ditanya kapan kerja, kerja dimana. Atau kalau sudah menikah maka dia harus biayai anak dan istrinya,"terang Budi.

Karena itu Kemendukbangga mendorong revisi UU No.23 Tahun 2014 untuk mengkapitalisasi bonus demografi sehingga memberi manfaat bagi negara.

Lembaga itu juga mendorong revisi Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga untuk menyelaraskan semua konsep kependudukan dengan kementerian lain

Semua langkah ini dilakukan guna mendukung target besar mewujudkan visi Indonesia Emas tahun 2045.  

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.