Kolaborasi AI dan Masyarakat Dorong Pencegahan Kebakaran Hutan
📅 Rabu, 06 Agu 2025, 17:20 WIB | Oleh: Alfred
Doc: ANTARA/Hadly V
JAKARTA – Peneliti IPB University Robi Deslia Waldi menekankan pentingnya deteksi dini berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang dikombinasikan dengan keterlibatan masyarakat di lapangan untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dalam diskusi daring FOLU Talks yang digelar Kementerian Kehutanan (Kemenhut) di Jakarta, Rabu, peneliti dan anggota regional Fire Management Resource Center Southeast Asia (RFMRC-SEA) IPB Univesity, Robi mengatakan bahwa untuk mencapai kondisi penyerapan yang lebih besar dibandingkan emisi di sektor kehutanan pada 2030 atau FOLU Net Sink 2030, deteksi dini berbasis AI dan komunitas perlu ditingkatkan.
"Arah ke depan langkah strategis yang penting untuk menuju FOLU Net Sink untuk generasi muda dan semuanya, yang pertama adalah melakukan deteksi dini berbasis AI dan komunitas," katanya.
Dia menjelaskan bahwa teknologi AI semakin intensif digunakan dalam rangkaian pencegahan kebakaran hutan, terutama untuk memprediksi titik panas atau hotspot yang dilakukan berdasarkan analisa berbasis cuaca dan tutupan lahan.
AI tersebut akan mendukung pencitraan jarak jauh menggunakan satelit yang sudah dilakukan selama ini untuk memantau keberadaan hotspot termasuk menggunakan Landsat, VIIRS dan Sentinl-2.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, di sisi lain kolaborasi berbagai pihak di tingkat tapak tetap diperlukan untuk memastikan pencegahan dan penanganan, termasuk untuk mengonfirmasi akurasi analisa hotspot yang dilakukan berdasarkan AI dan pencitraan jarak jauh.
"Tidak hanya berbasiskan teknologi saja, masyarakat juga kita ajak, karena semua kembali lagi ke masyarakat bagaimana teknologi itu digunakan oleh masyarakat," tuturnya.
Selain itu, integrasi data dari berbagai sumber, riset aplikatif yang inklusif dan pelibatan generasi muda juga tetap diperlukan untuk memastikan target FOLU Net Sink untuk mencapai kondisi -140 juta ton CO2 ekuivalen dapat terwujud pada 2030.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kolaborasi itu diperlukan mengingat kebakaran hutan masih menjadi salah satu penyumbang emisi yang besar, terutama jika terjadi di lahan gambut.
Tren kebakaran hutan dan lahan memperlihatkan penurunan jika dibandingkan puncaknya pada 2015, ketika 2,6 juta hektare (ha) areal terbakar di seluruh Indonesia. Sempat naik pada 2019, dengan luas 1,6 juta ha, jumlah itu terus turun, yaitu 296.942 ha pada 2020, 358.867 ha pada 2021, 204.894 ha pada 2022, 1,16 juta ha pada 2023, dan 376.805 ha pada 2024.
Sementara untuk tahun ini, data SiPongi milik Kemenhut memperlihatkan indikasi luas kebakaran yang dilaporkan sampai Juni 2025 mencapai8.594 ha.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!