Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bukan Main! RI Berpotensi Jadi Pemain Utama Industri PLTS Dunia

📅 Selasa, 05 Agu 2025, 20:20 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Bukan Main! RI Berpotensi Jadi Pemain Utama Industri PLTS Dunia Doc: ANTARA/ Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Ket. Petugas memeriksa indeks serapan energi panas pada panel surya pada PLTS di Desa Suana, Pulau Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali.

JAKARTA – Indonesia berpotensi menjadi pusat produksi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) global. Apalagi RI memiliki cadangan mineral kritis yang melimpah sebagai sumber bahan baku energi baru dan terbarukan (EBT)

Chief Executive Officer (CEO)Institute for Essential Service Reform (IESR), Fabby Tumiwa menekankan, permintaan teknologi fotovoltaik global akan terus meningkat seiring target net zero emission (NZE) di banyak negara.

Inovasi teknologi sel surya meningkatkan efisiensi dan keandalan, sehingga menurunkan biaya teknologi. Selain itu, tingginya permintaan PLTS global membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi alternatif rantai pasok yang selama ini didominasi Tiongkok.

“Negara-negara Asia, Eropa, Afrika, Amerika Latin kini mencari alternatif rantai pasok dengan mempertimbangkan efisiensi logistik sebagai faktor utama. Indonesia yang berada di jantung Asia Tenggara dengan akses ke Asia dan Pasifik, memiliki peluang besar untuk memosisikan diri sebagai pusat produksi PLTS di kawasan.

Selain meningkatkan daya saing, pengembangan industri PLTS domestik, ekspor teknologi ini dapat menjadi sumber pendapatan baru menggantikan batu bara yang mulai memasuki masa senjanya.

"Indonesia mempunyai mineral kritis yang melimpah untuk industri PLTS. Ia mendorong agar Satgas Hilirisasi menjadikan pengembangan mineral untuk teknologi energi bersih sebagai prioritas strategis dalam mendukung transisi energi," ungkap Fabby di Jakarta, Selasa (5/8).

Adapun hal ini menjadi salah satu hasil kajian IESR bersama Institut Teknologi Indonesia (ITI) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang merekomendasikan Peta Jalan Rantai Pasok Industri Fotovoltaik Terintegrasi di Indonesia.

Selain Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), Indonesia melalui RUPTL PLN 2025–2034 menargetkan kapasitas terpasang PLTS sebesar 17,2 giga watt (GW). Rencana ekspor listrik ke Singapura sebesar 3,5 GWac juga berkontribusi pada peningkatan permintaan dan kebutuhan produksi PLTS. Namun, hingga kini belum ada industri hulu fotovoltaik seperti produksi polisilikon, ingot, dan wafer, serta low iron tempered glass di dalam negeri.

Alvin Putra Sisdwinugraha, Analis Sistem Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan IESR mengungkapkan situasi ini kontras dengan melimpahnya cadangan pasir kuarsa sebagai bahan baku polisilikon. Lebih dari 17 miliar ton pasir kuarsa tersebar di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

IESR menyoroti melimpahnya bahan baku silika, ketersediaan tenaga kerja, kawasan industri, dan potensi energi terbarukan dapat menekan biaya produksi polisilikon yang saat ini dapat mencapai 8-9 dollar AS per kilogram.

Utilisasi Rendah

Di sisi hilir, Indonesia sudah memproduksi sel dan modul surya. Kapasitas produksi modul dalam negeri saat ini mencapai 10,6 GW, sementara sel surya 9,5 GW. Namun, utilisasi dari kapasitas produksi pabrik masih cukup rendah akibat rendahnya permintaan dalam negeri. Selain itu, masih dibutuhkan peningkatan efisiensi dan penguatan ekosistem industri.

“Pengalaman industri sel dan modul surya domestik memproduksi dalam skala gigawatt adalah peluang besar. Minat investasi di sektor sel juga cukup tinggi. Produksi modul memiliki modal awal yang lebih rendah dan dapat diperkuat dengan ketersediaan industri penunjang seperti aluminium dan kaca, serta tren ekspor yang terus meningkat,” ungkap Alvin.

Kajian ini menyodorkan strategi pengembangan rantai pasok fotovoltaik dalam tiga tahapan yaitu jangka pendek (2025–2030), jangka menengah (2031–2040), dan jangka panjang (2041–2060).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Wilayah Barat dan Timur Bog...

BBM Mahal, Warga Tangerang Hijrah ke Pertalite

3 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
BBM Mahal, Warga Tangerang ...

Bandit yang Memalak di Jakarta Pusat Diringkus

3 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Bandit yang Memalak di Jaka...
Luar Negeri
Warga Russia Dibatasi dalam...
Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp73.000/...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Gempa Magnitudo 5,1 Kembali Guncang Sulawesi Tengah

Gempa Magnitudo 5,1 Kembali Guncang Sulawesi Tengah

17 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.