Angin Segar dan Harapan Rakyat Kecil dari Sekolah Rakyat Samarinda untuk Menggapai Cita-cita
📅 Minggu, 03 Agu 2025, 23:48 WIB | Oleh: Opik
Doc: ANTARA/Ahmad Rifandi
SAMARINDA - Jari-jemari keriput Eri Suwiryo tak lagi hanya memegang pahat dan gergaji. Belakangan ini, ada seulas senyum tipis yang sering tersungging di bibirnya setiap kali memandang Nur Asyifa, cucu satu-satunya.
Di rumah kayu mereka yang sederhana, berukuran 4x4 meter di ujung gang yang buntu kawasan Antasari II, Kelurahan Teluk Lerong Ilir Samarinda, Kalimantan Timur, secercah harapan baru mulai terpancar.
Rumah itu, dengan dinding yang dimakan usia, seolah menjadi saksi perjuangan sang kakek berusia 66 tahun, yang merantau ke Kalimantan Timur sedari 1974. Sejak orang tua Syifa tiada, duda mati itu yang merawatnya seorang diri. Sebagai tukang kayu lepas, pendapatan pria kelahiran Tuban itu tak pernah pasti.
"Kadang cukup untuk makan, seringnya harus berhemat habis-habisan," ucapnya.
Dulu, saat Annisa di SMP Negeri, meski SPP sekolah gratis, napas Eri tetap terasa sesak. Selalu ada kebutuhan lain--seperti seragam, buku, atau sekadar uang jajan agar cucunya tak merasa minder.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kini, di usia Syifa yang jalan ke-16 tahun, angin segar itu akhirnya datang. Kabar bahwa Syifa diterima di jenjang SMA Sekolah Rakyat Samarinda terasa seperti jawaban atas doa-doanya yang tak terucap.
Harapan yang mekar di gang sempit Kelurahan Teluk Lerong Ilir itu ternyata juga bergaung hingga ke sudut kota yang lain.
Di Kelurahan Sempaja Utara, Samarinda, senyum sumringah terpancar pula di wajah Nurhaidah. Ibu delapan anak ini setiap hari bergelut dengan tanah di ladang singkong bersama suaminya. Mereka memanen pucuk daun singkong untuk dijual ke tengkulak. Harga yang dijual sekadarnya saja, cukup untuk menyambung hidup dari hari ke hari.
Sebaiknya Anda baca juga:

Gedung asrama Sekolah Rakyat Terintegrasi 24 Samarinda, Kalimantan Timur. (Antara/Ahmad Rifandi)
Baginya, menyekolahkan anak setinggi-tingginya terasa seperti mimpi yang terlalu mewah. Namun, kini putranya, Muhammad Abdul Hafizi, akan segera mengenakan seragam SMP dari Sekolah Rakyat.
"Rasanya seperti ada yang mengangkat beban berat dari pundak kami," ujarnya tersenyum.
Tak jauh dari sana, Bunga Tan merasakan kelegaan yang sama. Suaminya, seorang kuli bangunan lepas, seringkali pulang dengan tangan hampa jika tak ada proyek. Melihat putra mereka, Muhammad Randi Arsil, berhasil diterima di SMA Sekolah Rakyat adalah hal yang amat disyukuri.
Eri sang tukang kayu, Nurhaidah yang petani singkong, dan Bunga Tan sebagai istri kuli bangunan. Tiga keluarga, tiga mata pencarian berbeda, namun diikat oleh benang takdir yang sama--kondisi ekonomi tak pasti. Mereka adalah potret keluarga-keluarga yang hidup pas-pasan dari penghasilan serabutan.
Bagi mereka, Sekolah Rakyat bukan sekadar program pendidikan gratis penuh dari Kementerian Sosial. SR merupakan pembawa asa. Pembebas rasa kekhawatiran dari ongkos seragam dan buku yang masih saja jadi beban.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!