LCGC Katanya Mobil Murah, Tapi Harganya Tiap Tahun Naik Terus. Diluncurkan Rp70 Juta Sekarang Rp200 Juta
📅 Jumat, 01 Agu 2025, 14:49 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
TANGERANG – Mobil-mobilyang namanya Low Cost Green Car (LCGC) diciptakan sebaagai mobil murah agar terjangkau. Namun, kenyataannya, harganya tiap tahun terus naik. Jadi, tidak terjangkau lagi.
Tak heran pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, konsumen otomotif mempertanyakan kenaikan yang dialami oleh kendaraan LCGC setiap tahunnya yang mencapai tujuh persen.
Jangan terjebak dengan paradigma harga mobil murah. Tahun 2013, LCGC mulai 85 juta. Tiap tahun naik tujuh persen. Akar masalahnya itu. Kenapa tiap tahun naik tujuh persen? “Apakah gaji kita naik tiap tahun,” kata Yannes Martinus Pasaribu.
Dia mengatakan ini dalam Dialog Industri Otomotif Nasional bertajuk “Perang Harga vs Pembangunan Industri: Siapa Untung, Siapa Tertinggal?” di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025, ICE BSD, Tangerang, Kamis.
LCGC yang dikenal sebagai kendaraan berlabel ramah dompet ini hadir pada 2013 yang lalu. Harga awal dari kendaraan LCGC ini, hanya mencapai 70 jutaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun saat ini, harga untuk kendaraan LCGC mencapai ratusan juta, atau mulai dari 138 juta sampai dengan 200 jutaan. Sehingga, kendaraan ini tidak lagi bisa dibilang sebagai kendaraan yang ramah dengan dompet.
Hadirnya kendaraan tersebut juga sempat menjadi mengangkat penjualan kendaraan bermotor di sektor roda empat. Dimana, Indonesia sempat mengalami kejayaan dengan menembus angka penjualan mencapai lebih dari 1 juta unit secara akumulasi dengan kendaraan jenis lain.
“Atau karena harga mobil naik terus 7 persen tiap tahun. Jangan-jangan ada penyampaian informasi yg berbeda?” ujar dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, praktisi otomotif, Shodiq Wicaksono menjelaskan perihal terjadinya peningkatan sebesar 7 persen di setiap tahunnya yang banyak disebabkan oleh berbagai faktor.
“Terkait masalah kenapa naiknya 7 persen, kalau sedikit cerita, faktornya banyak. Sebetulnya kenaikan itu bukan kita yang mau, artinya ketika kita impor ada efek exchange rate fluktuatif, barang yang kita beli lebih mahal karena Rupiah melemah,” jawab Shodiq.
Meski memiliki kendaraan yang diproduksi dalam negeri, tidak semua komponen tersedia di tanah air. Sehingga, beberapa komponen harus didatangkan dari luar Indonesia.
“Dan karena masih sebagian besar material buatan Indonesia dan sebagian besar diimpor itu jadi terkena dampak. Kita beli menggunakan dolar, yen, yuan. Efeknya jadi lebih tinggi dari inflasi yang kita alami. Kita sebagai produsen akhirnya harus membeli mahal komponen tersebut,” kata dia.
Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengatakan bahwa Indonesia masih menjadi raja dalam industri otomotif membawahi Malaysia dan juga Thailand.
“Kita masih nomer satu dalam hal penjualan (di kawasan ASEAN) walaupun share-nya makin turun biasanya di atas 30 persen, belakang sekitar 25 persen. Rangking kedua Malaysia, yang naik kelas, biasanya diduduki oleh Thailand. Thailand drop-nya cukup banyak walaupun di posisi ketiga, penjualan hanya di kisaran 500 ribu,” kata Kukuh Kumara dalam sebuah diskusi di sebuah pameran otomotif berskala internasional di Tangerang, Kamis.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!