Tarif Lebih Murah, RI Harus Optimalkan Peluang Menampung Industri yang Relokasi
📅 Rabu, 23 Jul 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiTantangan di Indonesia jelasnya ada pada keterbatasan infrastruktur industri terpadu (khususnya di luar Jawa), kepastian hukum dan perizinan serta ketidaksiapan kawasan industri sebagai ekosistem industri modern.
Dia sangat mendukung pembentukan Special Economic Zone (SEZ), asalkan asal mengedepankan prinsip, lokasi yang terintegrasi dengan pelabuhan, bandara, dan logistik utama, kepastian hukum investasi dan one-stop licensing, serta memiliki insentif fiskal dan non-fiskal yang menarik.
“Rekomendasi bagi pemerintah ialah siapkan SEZ berbasis klaster industri, percepat reformasi kepastian hukum dan tenurial. Lalu, tingkatkan daya saing tenaga kerja, dan
harmonisasi kebijakan dengan ASEAN,”pungkasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, dalam keterangannya, Selasa (22/7) menyatakan Indonesia memiliki tarif yang lebih kompetitif daripada negara ASEAN dan negara kompetitor lainnya, sehingga memberi keuntungan besar bagi ekspor nasional.
Tarif rendah tersebut juga memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan investasi, karena dinilai lebih menarik untuk relokasi industri. Hal itu membuka peluang baru bagi penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
“Nah sisi positifnya, justru dengan kondisi global seperti ini walaupun ketidakpastiannya masih sangat tinggi, namun sebenarnya sebagian perkembangan yang ada justru menjadi opportunity untuk Indonesia. Menjadi kesempatan yang sangat baik terutama untuk mendukung investasi,” ungkap Sesmenko Susiwijono.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai informasi, penelitian yang dilakukan konsultan Oliver Wyman terhadap masyarakat kaya di Tiongkok baru-baru ini menunjukkan kalau mereka merasakan dampak buruk terhadap perekonomian seperti yang mereka alami saat pandemi.
Hasil penelitian yang dirilis bulan ini menyebutkan kalau 22 persen responden memberikan pandangan negatif terhadap perekonomian Tiongkok saat disurvei pada Mei lalu atau lebih tinggi dari 21 persen pada Oktober 2022 lalu, tepat sebelum Beijing mengumumkan rencana untuk melonggarkan kebijakan ketat nol kasus Covid-nya.
Saat ditanya mengenai prospek jangka waktu lima tahun, responden merasa kurang optimis dibandingkan pada tahun 2022.
“Bagi kami, ini adalah perubahan mendasar dalam pola pikir,” Imke Wouters, partner di Oliver Wyman kepada CNBC. “Jika Anda berpikir, 'Saya tidak memiliki situasi keuangan yang baik sekarang, artinya pola pengeluaran dan tabungan Anda akan sangat berbeda,” Wyman.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!