Pelayanan Kesehatan di Pelosok Mentawai: Bidan Senter & Pak Mantri Tanpa Listrik
📅 Jumat, 18 Jul 2025, 14:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara Foto
Bidan Ilen mengembangkan payungnya, melangkahi jalan rabat beton dari dusun ke dusun, naik-turun perbukitan untuk menghampiri rumah warga yang meminta diperiksa kesehatannya.
Ia harus menempuh jarak sekitar setengah hingga dua kilometer menuju rumah warga yang tidak mampu datang ke pondok bersalin desa (Polindes) yang ditempatinya sekaligus tempat praktiknya.
Hari itu Ilen mendatangi rumah seorang Lansia yang kerap disapa Teteu Lumang di Dusun Matektek untuk memeriksa kondisi kesehatan sang pasien.
Sebelumnya Ilen sudah menyarankan kepada keluarga Teteu Lumang agar Lansia tersebut segera dirujuk ke puskesmas, tapi saat Ilen kembali datang hari itu, ternyata Teteu akan diobati oleh Sikerei (dukun tradisional Mentawai).
"Biasanya, sebelum diobati secara medis oleh petugas kesehatan, warga di sini memanggil Sikerei dulu, karena kepercayaan orang di sini kuat terhadap Sikerei," kata Bidan Ilen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ilen yang bernama asli Candra Kirana itu sudah 10 tahun menjadi bidan honor di Desa Matotonan, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Pada tahun 2024 ia baru diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
"Akses di sini susah, kalau mau ke pusat kecamatan harus naik pompong, lalu naik becak atau naik ojek. Kalau masyarakat di sini harus dirujuk, itu makin susah, kadang warga tidak mau karena biayanya besar. Kalau ada yang melahirkan, kadang bisa mereka melahirkan sendiri, tidak perlu panggil kami karena akses yang sulit. Tiba-tiba sudah lahir saja, ya sudah yang penting selamat," jelas Ilen.
Desa Matotonan berjarak hanya sekitar 44,4 kilometer dari pusat kecamatan di Muara Siberut dengan perkiraan waktu tempuh sekitar satu jam jika melewati jalur darat normal. Namun, apa mau dikata, karena desa itu merupakan daerah pedalaman, maka perjalanan ke sana tidak dapat ditempuh sesuai ekspektasi.
Dari Muara Siberut, warga yang ingin kembali ke desa harus melewati jalur darat Trans Mentawai menggunakan motor atau mobil sekitar 1,5 jam. Kondisi jalan sekitar 5 kilometer rusak berat dengan jalan tanah yang bergelombang, sisanya jalan rabat beton dan kerikil.
Sampai di Desa Ugai, perjalanan dilanjutkan dengan pompong atau sampan panjang bermesin dompeng sekitar dua jam menyusuri sungai Sarereiket. Durasi tempuh akan bertambah saat air sungai dangkal.
Perjalanan ke dusun lain di Matotonan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki atau menaiki motor.
Desa Matotonan sendiri terdiri dari lima dusun yaitu Dusun Kinikdog, Dusun Matektek, Dusun Maruibaga, Dusun Onga dan Dusun Mabekbek.
Bidan Ilen adalah satu dari dua bidan yang bertugas di Matotonan. Ia ditempatkan di Dusun Onga. Ia tidak hanya bertugas membantu ibu hamil melahirkan saja, tapi juga masyarakat yang berobat dan layanan kesehatan lain. Satu bidan lagi, bidan Siska, ditempatkan di Dusun Kinikdog dan baru pindah satu bulan dari Desa Madobag.
Selain akses yang sulit, para bidan di pedalaman juga mengakui bahwa fasilitas kesehatan dan obat-obatan di sana minim. Bidan Siska pindah dari Desa Madobag membawa keluarganya ke Desa Matotonan dan ditempatkan di rumah sosial terbuat dari kayu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!