Pelayanan Kesehatan di Pelosok Mentawai: Bidan Senter & Pak Mantri Tanpa Listrik
📅 Jumat, 18 Jul 2025, 14:45 WIB | Oleh: Tim PenulisSementara itu, Puskesmas Sarereiket memiliki 28 tenaga kesehatan, meliputi 6 PNS dan 22 PPPK yang juga tersebar di Desa Rogdok, Madobag, Ugai, dan Matotonan dengan satu orang dokter umum.
Desa Matotonan dihuni sekitar 327 jiwa yang seluruhnya memiliki BPJS kesehatan sehingga mereka bisa berobat dan mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis meskipun berada di pelosok desa.
Data BPJS Kesehatan Kabupaten Kepulauan Mentawai menyebutkan, capaian peserta jaminan kesehatan di daerah itu sebanyak 98,95 persen dari total 96.570 jiwa.
Bagi yang tidak mampu, warga bisa mendapatkan bantuan iuran untuk BPJS kesehatan dari Pemerintah Provinsi Sumbar dengan kuota 11 ribu orang, dan Pemkab Mentawai dengan kuota sebanyak 7.157 orang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, Kepala BPJS Kesehatan Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sanugrah Pangabean mengakui, untuk pelayanan melalui Mobile JKN ada beberapa desa yang kesulitan jaringan internetnya sehingga tidak bisa digunakan.
"Pada beberapa desa yang sulit sinyal internetnya, bukan berarti kami tidak melakukan secara daring, kami tetap melakukan pelayanan melalui pesan WhatsApp, biasanya dari faskes yang akan membantu koordinasi dengan kita untuk daftarkan warga yang akan berobat," kata Sanugrah.
Warga yang berobat cukup membawa kartu BPJS kesehatan atau memberikan nomor JKN atau Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan akan diinput secara manual, karena terkadang warga tidak membawa kartu fisik, katanya.
Hal itulah yang dirasakan Ilen, saat warga desa lupa membawa kartu BPJS. Bidan Ilen hanya meminta warga datang kembali untuk mengantarkan kartu BPJS-nya yang tertinggal di rumah. Kemudian, Ilen melanjutkan kegiatan sehari-hari di rumah yang sekaligus menjadi tempat prakteknya itu.
Kisah Ilen dan Siska bukanlah sekadar cerita tentang pelayanan kesehatan. Ia adalah potret ketangguhan, dedikasi, dan harapan yang terus berjalan meski terpatah-patah oleh jarak dan keterbatasan.
Matotonan mungkin jauh di peta, tapi suara mereka yang digaungkan lewat tindakan Ilen dan Siska, menyerukan bahwa hak atas kesehatan tidak boleh bergantung pada letak geografis, karena di ujung negeri, harapan juga butuh pintu, dan bidan-bidan itulah yang menjaga pintu itu tetap terbuka.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!