Pelayanan Kesehatan di Pelosok Mentawai: Bidan Senter & Pak Mantri Tanpa Listrik
📅 Jumat, 18 Jul 2025, 14:45 WIB | Oleh: Tim PenulisRata-rata- rumah di pedalaman Mentawai memang masih berupa rumah panggung berbahan kayu. Siska bersama suami dan anaknya harus merenovasi sendiri rumah mereka agar layak ditinggali sekaligus menjadi tempat praktek melayani masyarakat.
Awal mula bertugas di Matotonan, Siska langsung mendapat panggilan berobat dari tempat yang jauh dan mau tidak mau ia menjalani tugasnya itu dengan tulus.
"Pertama pindah ke sini, saya dapat panggilan berobat dari warga, saya harus berjalan kaki jauh, naik-turun melewati bukit. Pulang dari sana malah saya yang demam, jadi beban pikiran dan stres. Tapi sekarang saya mulai terbiasa," kata Siska.
Menurut Siska, fasilitas kesehatan yang ia miliki juga terbatas dan tidak lengkap, bahkan fasilitas dasar seperti tempat tidur periksa, alat pengukur tensi, dan stetoskop pun belum ia memiliki.
Sebaiknya Anda baca juga:
Jika ada warga yang berobat, ia melayaninya di teras rumah yang sekelilingnya dibuatkan tempat duduk serupa rumah tradisional Mentawai dengan satu meja kayu. Di situ, Siska akan memeriksa denyut nadi warga secara manual menggunakan tangan.
"Kalau ada orang yang sesak napas, bingung saya mau kasih obat apa, oksigen pun tidak ada di sini. Kadang kalau ada pasien darurat yang butuh oksigen, kami minta rujuk saja langsung ke Puskesmas," kata Siska.
Kalau ada pasien darurat tengah malam, kendala akan bertambah karena listrik di saat itu sudah tidak menyala. Tenaga listrik yang disediakan PLN melalui mesin diesel bisa digunakan mulai sore hari hingga tengah malam. Selepas waktu itu kondisi desa akan gelap gulita tanpa penerangan kecuali yang menggunakan lampu darurat. Pagi dan siang hari warga dapat memanfaatkan listrik tenaga surya yang kapasitasnya tergantung cuaca.
Penambahan tenaga kesehatan
Ilen dan Siska harus berkolaborasi agar upaya menjaga kesehatan warga di Desa Matotonan berkelanjutan. Jika Ilen sedang pergi ke pusat kecamatan, Siska harus siaga jika ada warga berobat atau dalam kondisi darurat, begitu juga sebaliknya. Tentu saja jumlah tenaga kesehatan yang hanya dua orang itu jauh dari ideal untuk melayani sebuah desa.
Kepala Puskesmas Sarereiket, Malaikat, mengatakan, Puskesmas menambahkan dua tenaga kesehatan baru untuk ditempatkan di Desa Matotonan.
"Kami dari Puskesmas menambah dua perawat lagi untuk ditempatkan di desa ini, tujuannya agar tenaga kesehatan di sini, saat mereka keluar desa, tidak terjadi kekosongan sehingga pelayanan kesehatan tetap berjalan," kata Malaikat yang pagi itu mendampingi kedua perawat tersebut bersama seorang dokter untuk melakukan imunisasi yang digelar sebulan sekali di balai adat Desa Matotonan.
Saat ini, jumlah tenaga kesehatan di Kabupaten Kepulauan Mentawai sebanyak 705 orang yang terdiri atas 361 PNS dan 344 PPPK
Jumlah tersebut masih jauh dari kata ideal karena Mentawai masih kekurangan dokter gigi, dokter umum, tenaga gizi. dan tenaga laboratorium.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!