Masyarakat Agam Didorong Waspada: Mengawasi Konten Digital untuk Menghindari Penyebaran Hoaks
📅 Jumat, 11 Jul 2025, 19:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara Foto
Pemerhati Penyiaran Ramah Anak Kabupaten Agam, Sumatera Barat mendorong masyarakat untuk aktif dalam mengawasi konten digital anak di tengah maraknya platform daring seperti YouTube, Tiktok hingga layanan Over The Top (OTT) lainnya.
"Dunia penyiaran Indonesia sedang berlayar di atas gelombang transformasi digital yang kian tidak terbendung. Generasi muda, khususnya, semakin menambatkan perhatian mereka pada layar ponsel di genggaman," kata Pemerhati Penyiaran Ramah Anak Agam, Triana Maharani, di Lubuk Basung, Jumat.
Ia mengatakan hal ini penting agar ruang digital tidak menjadi lahan subur bagi konten yang melanggar nilai sosial, etika, atau bahkan membahayakan anak-anak.
Saat ini banyak konten digital yang lolos tanpa pengawasan memadai. Konten-konten tersebut kerap berpotensi memicu kerentanan sosial, mulai dari prank yang mempermalukan orang, kekerasan terselubung, hingga konten seksual samar yang dibungkus demi mengejar popularitas di media sosial.
"Banyak konten yang sejatinya tidak sesuai norma sosial atau bahkan tidak ramah anak, lolos begitu saja ke hadapan publik. Tanpa pengawasan memadai, konten semacam itu berpotensi menciptakan kerentanan sosial yang lebih luas," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut dia, kondisi ini tidak bisa hanya dibebankan pada lembaga pengawas seperti Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
Masyarakat harus berani terlibat aktif dalam menjaga ruang digital agar tetap sehat dan aman, terutama bagi generasi muda.
"Kita tidak bisa menutup mata bahwa batas antara penyiaran konvensional dan digital kini semakin tipis, bahkan nyaris menghilang. Apa yang dulu hanya tersaji lewat televisi, kini bisa diakses kapan saja melalui internet," katanya.
Ia menilai, salah satu langkah penting adalah mendorong masyarakat memanfaatkan kanal pengaduan publik.
Tidak hanya hotline telepon, ia mendorong adanya teknologi pengaduan modern berbasis aplikasi, chatbot atau kecerdasan buatan (AI), agar masyarakat lebih mudah melaporkan konten digital yang bermasalah.
"Dengan begitu, masyarakat lebih mudah melaporkan konten digital yang bermasalah,” katanya
Ia menambahkan literasi digital harus menjadi prioritas utama, agar masyarakat, terutama orang tua dan guru mampu mengenali konten berbahaya serta bijak dalam menggunakan teknologi.
"Benteng utama pengawasan moral tetap ada di rumah, di tangan para orang tua. Dunia digital, bagaimanapun, memiliki dua sisi, bisa membawa manfaat besar, tetapi juga risiko besar," katanya.
Ia mendorong adanya kerja sama multipihak dalam membuat pedoman konten digital sebagai rambu moral sekaligus tekanan sosial agar platform digital memikul tanggung jawab terhadap isi siaran mereka.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!