Alarm Fiskal Berbunyi: Penerimaan Pajak Seret Parah!
📅 Rabu, 02 Jul 2025, 16:47 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
JAKARTA – Penurunan penerimaan pajak dapat berdampak signifikan pada stabilitas ekonomi dan kemampuan pemerintah dalam menyediakan layanan publik.
Dampaknya meliputi berkurangnya investasi publik, penurunan kualitas layanan kesehatan dan pendidikan, serta potensi peningkatan defisit anggaran dan utang negara.
Pemerintah mencatat realisasi penerimaan pajak hingga semester I 2025 mencapai Rp831,27 triliun secara neto atau 38 persen dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebesar Rp2.189,3 triliun.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa realisasi tersebut masih menunjukkan tekanan, terutama akibat penurunan tajam penerimaan pada awal tahun.
Pada Januari 2025, misalnya, penerimaan pajak hanya tercatat sebesar Rp88,9 triliun atau terkontraksi 41,9 persen dibandingkan Januari 2024 yang mencapai Rp152,9 triliun.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Netonya memang jauh lebih dalam kontraksinya Januari 41,9 persen karena restitusi cukup besar. Sampai Februari masih terasa," ujar Sri Mulyani, dikutip dari keterangannya di Jakarta, Rabu (2/7).
Menurutnya, restitusi pajak yang cukup tinggi di awal tahun turut memengaruhi pola penerimaan. Namun, perbaikan mulai terlihat sejak Maret 2025.
Penerimaan pajak Maret meningkat 3,5 persen secara tahunan menjadi Rp134,8 triliun, kemudian pada April sebesar Rp234,4 triliun atau tumbuh 5,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp221,6 triliun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sempat kembali mengalami kontraksi pada Mei menjadi Rp126,2 triliun atau turun 7,4 persen, namun mulai stabil pada Juni.
"Pada Mei kontraksi lagi karena restitusi, dan Juni sudah mulai positif setelah Dirjen Pajak baru melakukan adjustment," kata Menkeu.
Lebih lanjut, Sri Mulyani menilai pola penerimaan pajak yang naik-turun tersebut relatif konsisten terjadi dari tahun ke tahun. Pihaknya pun optimistis pada semester II 2025 penerimaan negara dapat distabilkan.
"Capaian ini memberi harapan bahwa di semester dua kita bisa melakukan stabilisasi penerimaan negara yang menjadi backbone APBN," ucapnya.
Adapun total penerimaan neto Rp831,27 triliun hingga Juni 2025, sebagian besar berasal dari PPh badan sebesar Rp152,49 triliun (turun 11,7 persen yoy), PPN dan PPnBM sebesar Rp267,27 triliun (turun 19,7 persne), PPh orang pribadi Rp14,03 triliun (naik 35,6 persen), serta PBB Rp11,53 triliun (naik 247,2 persen).
Dalam pemaparannya, Bendahara Negara tersebut menetapkan outlook penerimaan pajak hingga akhir 2025 diproyeksikan mencapai 94,9 persen dari target APBN, atau tumbuh 7,5 persen dibanding tahun sebelumnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!