Karet Sumut Laris Manis di Pasar Global, Ekspor Mei 2025 Tembus Puluhan Ribu Ton
📅 Minggu, 29 Jun 2025, 23:21 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA
MEDAN – Karet alam merupakan salah satu komoditas ekspor utama Indonesia, yang berkontribusi signifikan terhadap pendapatan devisa negara.
Ekspor karet alam dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, baik secara nasional maupun di daerah penghasil karet, melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.
Peningkatan ekspor karet alam dapat meningkatkan pendapatan petani karet, yang merupakan mata pencaharian utama bagi banyak masyarakat di daerah pedesaan.
Gabungan Perusahaan Karet Indonesia Sumatera Utara (Gapkindo Sumut) mencatat ekspor karet alam di wilayah ini pada Mei 2025 mengalami kenaikan 10,08 persen atau sebesar 22.896 ton.
Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumut Edy Irwansyah mengatakan jumlah ekspor karet pada Mei tersebut meningkat jika dibandingkan secara Month to Month (mom) atau pada April 2025.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Volume ekspor karet alam asal Sumatera Utara pada Mei 2025 tercatat sebesar 22.896 ton, mengalami kenaikan sebesar 10,08 persen secara bulanan dibandingkan April 2025 mencapai 20.799 ton," ujar Edy Irwansyah dalam keterangan resmi yang diterima, di Medan, Minggu (29/6).
Ia menjelaskan volume ekspor karet alam itu juga meningkat signifikan sebesar 46,56 persen jika dibandingkan secara tahunan (year on year/ yoy) atau pada Mei 2024 yang hanya mencatatkan 15.620 ton.
Meski terjadi peningkatan, volume ekspor itu masih belum kembali ke kondisi normal yang di mana rata-rata bulanan ekspor dari wilayah ini dapat mencapai 42.000 ton.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kenaikan ekspor Mei lebih banyak didorong oleh pergeseran dan peluang pasar, bukan oleh pemulihan struktural dari sisi produksi," kata dia.
Menurut dia, ketidakpastian tarif impor Amerika Serikat dan melemahnya permintaan dari industri manufaktur global menjadi faktor yang mempengaruhi kinerja global.
"Pada April 2025, eksportir menghadapi ketidakpastian terkait rencana kenaikan tarif dasar impor ke Amerika Serikat, bagian dari arah kebijakan proteksionis “Tarif Trump," sebut dia.
Ia menjelaskan rencana tersebut memicu penundaan pengapalan ke AS karena eksportir menghindari potensi beban tambahan biaya.
Namun, hanya beberapa jam setelah tarif tersebut mulai berlaku, pemerintah AS mengumumkan penundaan implementasi tarif selama 90 hari, yang kemudian mendorong pemulihan volume pengapalan di bulan Mei, khususnya ke pasar AS.
Selain itu, kinerja ekspor juga dibatasi oleh melemahnya permintaan dari sektor manufaktur, terutama industri ban kendaraan sebagai konsumen utama karet alam global.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!