Waspada Potensi Gelembung Properti Nasional
📅 Jumat, 20 Jun 2025, 11:30 WIB | Oleh: Tim PenulisPerlunya adaptasi kebijakan pengetatan dan transparansi properti Singapura
Singapura telah menunjukkan bagaimana regulasi yang ketat dapat mengendalikan spekulasi properti. Negara ini menerapkan dua kelompok kebijakan utama: fiskal dan non-fiskal.
Dari sisi fiskal, pemerintah memberlakukan Additional Buyer’s Stamp Duty (ABSD). Warga negara Singapura dikenakan pajak 20% untuk properti kedua dan 30% untuk properti ketiga dan seterusnya. Permanent Resident (PR) membayar 5% untuk properti pertama, 30% untuk kedua, dan 35% untuk ketiga.
Warga asing dikenakan pajak 60% untuk semua properti yang mereka beli. Selain itu, seller’s stamp duty (SSD) diterapkan untuk mengurangi beban harga dengan pajak 4% hingga 12% bagi rumah yang dijual dalam tiga tahun sejak pembelian.
Sebaiknya Anda baca juga:
Manajemen kredit perbankan di sana juga diatur sedemikian rupa untuk memastikan total utang peminjam tidak melebihi 55% dari pendapatan bulanan. Langkah-langkah ini membuat pembelian properti lebih selektif dan menekan spekulasi berbasis utang.
Dari sisi non-fiskal, Singapura meningkatkan transparansi pasar properti untuk mengurangi potensi kesalahan informasi. Pemerintah menyediakan data harga properti melalui urban redevelopment authority (URA) dan Housing Development Board (HDB) mulai dari harga jual, lokasi, luas unit, hingga tanggal transaksi.
Transparansi ini membantu pembeli seperti Aldi agar tidak membeli properti dengan harga yang tidak diawasi dengan baik oleh pemerintah. Dengan informasi yang lebih lengkap, pembeli bisa lebih “rasional” dalam mengambil keputusan, menghindari jebakan harga yang tidak realistis.
Sebaiknya Anda baca juga:
Upaya agar harga transparan
Bagi penjual, transparansi harga membatasi kemungkinan menaikkan harga secara tidak wajar. Jika harga pasar diketahui secara luas, sulit bagi mereka untuk menggelembungkan harga tanpa alasan jelas. Dari perspektif psikologi ekonomi, transparansi membantu individu dalam mengambil keputusan di bawah risiko dan ketidakpastian.
Dalam pasar yang tidak transparan, pembeli cenderung mengandalkan intuisi atau mengikuti herd behavior, yang sering kali berkontribusi pada gelembung properti. Ketika informasi tersedia luas, analisis lebih rasional dapat dilakukan, mengurangi potensi harga yang tidak didukung fundamental ekonomi.
Selain transparansi harga, peran penilai independen juga sangat penting dalam menentukan harga properti yang objektif dan mencerminkan nilai fundamental.
Penilai profesional bisa membantu memastikan harga properti tidak melambung akibat spekulasi semata, memberikan referensi yang lebih akurat bagi pembeli, penjual, dan lembaga keuangan dalam menilai aset properti.
Selain itu, transparansi harga juga memberikan keuntungan bagi pemilik rumah yang mengetahui bahwa nilai properti mereka meningkat. Oleh karena itu, perlu dibuat suatu platform informasi properti yang menyimpan dan mendistribusikan data properti ke pasar secara real-time dan transparan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!