Kontributor Utama PDB, Pertanian Berperan Vital Jaga Stabilitas Ekonomi Masyarakat Bawah
📅 Rabu, 04 Jun 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: antara
JAKARTA - Sektor pertanian menjadi kontributor utama dalam menggerakkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada triwulan I 2025. Hal itu terlihat pada laporan
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) yang menyebutkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencatat pertumbuhan tahunan tertinggi sebesar 10,52 persen pada triwulan I 2025.
Kepala Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Indef, Abra Talattov dalam laporan bertajuk Monitoring Issue of Food, Energy and Suistainable Development yang diterima di Jakarta, Selasa (3/6), menyebutkan lonjakan tersebut didorong oleh panen raya padi dan jagung. Produksi padi naik 51,45 persen secara tahunan (year on year/yoy) dan jagung naik 39,02 persen.
Kenaikan produksi secara signifikan itu diperkuat oleh faktor cuaca yang mendukung dan musim panen yang lebih awal dari biasanya. Panen raya pun bertepatan dengan Ramadhan dan Idul Fitri yang jatuh pada Maret-April, sehingga permintaan terhadap bahan pangan pokok meningkat tajam dan mendorong penyerapan produksi.
Data Kementerian Pertanian juga menunjukkan kalau Bulog berhasil menyerap 1,3 juta ton beras pada April 2025. Hal ini menunjukkan efektivitas intervensi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga di tingkat petani.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tak hanya unggul dari sisi output produksi dan kontribusi terhadap PDB, Indef juga mencatat sektor pertanian turut menunjukkan kinerja kuat dalam penyerapan tenaga kerja.
Berdasarkan data BPS per Februari 2025, sektor ini menyerap 28,54 persen dari total angkatan kerja nasional, tertinggi dibanding sektor lainnya seperti perdagangan dan industri pengolahan.
“Selain menjadi motor pertumbuhan PDB nasional, sekitar 12-13 persen, sektor pertanian juga berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja,” jelas Abra.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bahkan, dalam enam bulan terakhir, sektor ini telah menambah sekitar 850 ribu lapangan kerja baru dari total kenaikan tahunan sebanyak 890 ribu orang. Hal itu menjadi bukti peran vital pertanian dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat bawah.
Capaian itu jelasnya menjadi modal penting bagi pemerintah untuk memperkuat sektor pangan sebagai pilar pembangunan. Namun demikian, tantangan seperti lemahnya daya tawar petani, ketimpangan dalam rantai nilai, dan fluktuasi harga gabah tetap menjadi perhatian utama.
Oleh karena itu, momentum positif itu harus dibarengi dengan reformasi tata niaga pertanian, penguatan peran Bulog, dan strategi perlindungan harga petani saat panen raya.
Jika ditunjang kebijakan yang tepat dan berkeadilan, sektor pertanian dinilai dapat menjadi pondasi ekonomi yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan di tengah tantangan global dan tekanan geopolitik yang masih berlangsung.
Peneliti Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Awan Santosa mengatakan, fokus swasembada pangan dengan berbagai faktor pendukung telah berhasil meningkatkan produksi pangan Indonesia.
Hal tersebut perlu ditopang tata niaga yang adil sehingga peningkatan produksi dan kontribusi pertanian ke produk domestik regiona) bruto (PDRB) dapat meningkatkan nilai tukar petani (NTP) dan kesejahteraan petani secara signifikan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!