Tetap Gunakan Batu Bara, Kementerian ESDM Sebut 3,2 dari 6,3 Gigawatt PLTU Mulai Beroperasi Tahun Ini
📅 Senin, 02 Jun 2025, 13:38 WIB | Oleh: Sriyono
Doc: antara foto
JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa sebesar 3,2 gigawatt (GW) dari 6,3 GW pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) beroperasi atau memasuki tahap Commercial Operation Date (COD) pada 2025.
“Sebagian besar yang batu bara ini sudah COD di 2025 ini sekitar 3,2 GW,” ucap Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Jisman P. Hutajulu dalam acara Diseminasi RUKN dan RUPTL di Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Jakarta, Senin (2/6).
Kapasitas sebesar 3,2 GW tersebut tidak datang dari satu pembangkit saja. Jisman menyampaikan bahwa 3,2 GW merupakan akumulasi kapasitas dari berbagai PLTU yang COD pada 2025.
Kontrak dari berbagai PLTU tersebut pun bermacam-macam, oleh karena itu ia tidak bisa merinci hingga kapan pembangkit-pembangkit tersebut akan beroperasi. “Pembangkit itu ada yang IPP (independent power producer/pembangkit swasta), ada PLN. Jadi banyak (pembangkit), tapi totalnya sekitar 3,2 GW yang tahun ini akan COD,” tutur Jisman.
Sedangkan, sebesar 3,1 GW lainnya sebagian besar sedang dalam tahap konstruksi. Target pembangunan PLTU berkapasitas 6,3 GW tersebut termaktub dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034.
Sebaiknya Anda baca juga:
Jiman menjelaskan bahwa pembangunan berbagai PLTU tersebut, dengan total kapasitas yang nantinya akan mencapai 6,3 GW, merupakan lanjutan dari RUPTL yang sebelumnya.
“PLTU batu bara ini bukan barang haram. Batu bara banyak dihasilkan Indonesia,” kata Jisman.
Yang perlu menjadi perhatian, lanjut dia, adalah permasalahan emisi agar tidak memberi dampak buruk kepada masyarakat dan global.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyampaikan rencana pembangunan PLTU sebesar 6,3 gigawatt (GW) dirasa perlu, sebab penggunaan batu bara masih dibutuhkan oleh Indonesia sebagai pembangkit listrik.
Bahlil menyoroti intermitensi dari penggunaan energi baru dan terbarukan, utamanya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
“Kan energi baru terbarukan kita ini, kalau pada siang hari kan dia menyerap. Begitu sore hari, malam hari, udah enggak. Maka, harus ada batu bara,” kata Bahlil pada Senin (26/5).
Selain itu, Bahlil juga mengungkapkan bahwa negara-negara yang mengembangkan energi baru dan terbarukan masih meminta kontrak batu bara kepada Indonesia.
Menurut dia, apabila negara yang mengembangkan energi baru dan terbarukan saja masih memakai batu bara, maka tidak ada salahnya bagi Indonesia untuk tetap menggunakan batu bara, seperti membangun PLTU baru.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, termaktub target penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 gigawatt (GW).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!