Proyek Penulisan Sejarah Nasional Indonesia: Kembalinya Narasi yang Tak Lengkap
📅 Selasa, 27 Mei 2025, 15:15 WIB | Oleh: Tim PenulisBerkaca dari masa lalu
Tidak bisa dipungkiri bahwa penulisan sejarah nasional cenderung berkelindan dengan kepentingan penguasa dan kelompok pendukungnya.
Bahkan sejak awal munculnya, genre sejarah nasional dalam tren historiografi (studi tentang bagaimana sejarah ditulis, dikonstruksi, dan ditafsirkan) di Eropa maupun Amerika Serikat (AS) pada abad XIX juga tidak bisa dilepaskan dari upaya melegitimasi kepentingan ekspansi wilayah yang berjalan seiring dengan kolonialisme.
Dalam konteks proyek revisi atas sejarah nasional Indonesia ini, kita perlu melihat kembali perbandingan penulisan sejarah nasional Filipina di masa Marcos dan sejarah nasional Indonesia di masa Suharto.
Sebaiknya Anda baca juga:
Para sejarawan Filipina maupun Indonesia yang terlibat dalam penulisan sejarah nasional bangsanya, harus dilihat sebagai agen yang memiliki kepentingan masing-masing dan berkuasa atas apa yang dikerjakannya untuk mencapai kepentingan tersebut. Mereka bukanlah aktor yang pasif atau dapat dimanipulasi begitu saja.
Pada proyek SNI masa Suharto, terdapat sejarawan yang memilih untuk menarik diri dari proyek penulisan itu karena perbedaan pandangan khususnya terkait metodologi penulisan. Sejarawan tersebut, Sartono Kartodirdjo, yang memperkenalkan pendekatan multidimensional (berbagai sisi) dalam penulisan sejarah, terpinggirkan oleh pimpinan proyek SNI waktu itu yang memilih pendekatan naratif linier. Padahal pendekatan multidimensional memungkinkan munculnya banyak tokoh sejarah seperti petani dan aktor sejarah lainnya yang sering terpinggirkan.
Demikian pula yang terjadi pada periode sebelumnya, yaitu ketika upaya penulisan sejarah nasional dimulai tahun 1950an. Saat itu, panitia penulisan sejarah nasional yang berisi sejarawan terkemuka bahkan menggelar Seminar Sejarah Nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, periode tersebut tidak menghasilkan sejarah nasional resmi karena berbagai alasan, termasuk perdebatan metodologi seperti yang terjadi pada kasus SNI Orde Baru.
Revisi untuk siapa?
Historia magistra vitae, sejarah merupakan guru terbaik bagi kehidupan, begitu menurut Marcus Cicero, filsuf Yunani yang terkenal dengan kemampuan orasinya.
Berkaca dari penulisan SNI di masa lalu yang diwarnai kegagalan maupun kontroversi, maka proyek revisi sejarah Indonesia ini perlu ditinjau ulang, bahkan bila mungkin dihentikan.
Pelibatan lebih banyak sejarawan untuk membuat revisi menjadi lebih representatif juga bukan merupakan solusi yang tepat.
Sebab, persoalan mendasarnya bukan pada revisi, tapi pada pengembangan historiografi Indonesia. Alih-alih melanjutkan proyek besar untuk merevisi sejarah nasional, pemerintah perlu lebih mendorong berbagai inisiatif penulisan sejarah di tingkat lokal, semisal melalui program Dana Abadi Kebudayaan atau dana Indonesiana.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!