Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mutasi Virus Hepatitis B dan SARS-CoV-2 Jadi Sorotan Guru Besar Unair

📅 Jumat, 23 Mei 2025, 09:50 WIB | Oleh:
Mutasi Virus Hepatitis B dan SARS-CoV-2 Jadi Sorotan Guru Besar Unair Doc: Istimewa
Ket. Mutasi virus menyebabkan perubahan genetik menjadi varian berbeda sebagai adaptasi untuk bertahan hidup dalam kondisi sulit seperti melawan obat atau tidak lagi efektif tertangani vaksin yang tersedia.

SURABAYA – Perkembangan Virus Hepatitis B dan kemunculan berbagai varian SARS-CoV-2 jadi perhatian bagi akademisi dan praktisi dalam perubahan genetik suatu virus. Mutasi virus menyebabkan perubahan genetik menjadi varian berbeda sebagai adaptasi lingkungan untuk bertahan hidup dalam kondisi sulit seperti. 

Seperti melawan obat maupun sistem kekebalan tubuh inang. Akibatnya timbul penyakit yang lebih mudah menular, lebih sulit disembuhkan, atau tidak lagi efektif tertangani menggunakan vaksin yang tersedia. 

Hal itu diungkapkan oleh Juniastuti, Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) yang resmi dikukuhkan dalam upacara pengukuhan guru besar Unair, pada Kamis (22/5) di Surabaya. 

Resistensi Virus Hepatitis B (VHB) Terhadap Terapi Standar

Juniastuti memberikan perhatian terhadap dua jenis virus. Pertama adalah virus Hepatitis B (VHB) yang menyerang hati. Sekarang VHB memiliki sepuluh jenis genotipe dan 40 sub genotipe yang tersebar secara global. Setiap jenis memiliki karakteristik berbeda. Beberapa mutasi tertentu, seperti A1762T/G1764A dan G1896A membuat virus menjadi lebih agresif. Kerusakan hati yang lebih parah berubah menjadi sirosis dan kanker hati. Bahkan mutasi lain membuat virus kebal terhadap obat antivirus. 

“Misalnya, mutasi pada bagian YMDD dikenal luas menyebabkan resistensi obat lamivudin, salah satu terapi standar untuk hepatitis B,” ungkapnya.

Kemunculan Varian SARS-CoV-2

Kedua adalah SARS-CoV-2 yang merupakan penyebab COVID-19. Pandemi yang terjadi beberapa tahun silam menjadi wujud nyata dampak luas akibat mutasi virus. Dalam kurun lima tahun saja varian bernama Alpha, Beta, Delta, dan Omicron telah muncul. Varian Omicron jauh lebih mudah menular dibandingkan varian Delta dengan gejala cenderung lebih ringan. Namun, mutasi menyebabkan alat tes maupun vaksin yang awalnya efektif menjadi kurang optimal.

“Vaksin booster belum cukup kuat melawan subvarian terbaru Omicron. Karena itu, ilmuwan sedang mengembangkan vaksin generasi baru yang lebih sesuai dengan varian yang beredar,” tuturnya.

Oleh karena itu, deteksi varian virus harus menjadi bagian penanganan penyakit menular. Dukungan dari pemerintah dan pemangku kebijakan sangat vital dalam pemeriksaan molekuler untuk deteksi varian cenderung mahal. Terlebih lagi untuk penyakit yang sedang mewabah atau berpotensi menjadi pandemi. Langkah tersebut bukan hanya menyelamatkan individu, tetapi juga melindungi masyarakat luas. 

“Dengan deteksi dini dan penanganan tepat, kita bisa menekan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular, serta berkontribusi pada pencapaian target kesehatan global tahun 2030,” tutupnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Daerah
Para Pendidik di Wilayah Su...

Neraca perdagangan Januari-Mei 2026 surplus

33 menit yang lalu | Wahyu AP

Ekonomi
Neraca perdagangan Januari-...
Olahraga
Sabalenka Hadapi Ujian Bera...

Potensi luas panen padi Juni-Agustus 2026

43 menit yang lalu | Wahyu AP

Ekonomi
Potensi luas panen padi Jun...
Ekonomi
Kelangkaan elpiji sebabkan ...
Pertamina dan KKP Berkolaborasi Perkuat Pasokan BBM Nelayan Dukung Perikanan Nasional

Pertamina dan KKP Berkolaborasi Perkuat Pasokan BBM Nelayan Dukung Perikanan Nasional

02 Jul 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.