Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Sekolah di Barak, Strategi Pemprov Jabar Bentuk Karakter Remaja

📅 Rabu, 21 Mei 2025, 13:01 WIB | Oleh: Tim Penulis

Selama program berlangsung, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan peninjauan ke lokasi. KPAI menemukan beberapa catatan penting, di antaranya belum optimalnya regulasi perlindungan anak, belum adanya standar baku seperti panduan teknis dan SOP, serta ketidaktepatan sasaran peserta.

Sebanyak 6,7 persen siswa bahkan mengaku tidak mengetahui alasan mereka mengikuti program ini. Selain itu, pemilihan peserta masih berdasarkan rekomendasi guru Bimbingan Konseling tanpa asesmen psikolog profesional.

Ketua KPAI, Ai Maryati Solihah, menekankan pentingnya pelaksanaan program ini sesuai prinsip perlindungan hak anak.

"Program harus dijalankan dengan menghormati, melindungi, dan memenuhi prinsip-prinsip dasar pemenuhan hak anak, yakni non-diskriminasi, kepentingan terbaik anak, hak hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan, serta penghargaan terhadap pendapat anak," ujarnya.

Ia juga menyoroti pendekatan militer dalam pendidikan karakter yang dinilai hanya berdampak sementara jika tidak dibarengi dengan dukungan dari keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial yang kondusif.

Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, menyatakan keterbukaannya terhadap program ini. Ia menilai bahwa pendekatan militer bisa menjadi alternatif bagi orang tua yang kesulitan membina anak.

"Kita lihat nanti evaluasi dari Kang Dedi seperti apa, kita akan dukung selama itu memang menjadi cara terbaik untuk menyadarkan anak-anak kita. Karena ternyata banyak orang tua yang senang ketika anaknya dilatih, karena orang tuanya mungkin sudah tidak sanggup membina, mengasuh anak-anaknya. Jadi kita tidak bisa men-judge bahwa ini tidak baik," kata Arifah Fauzi.

Meski demikian, Kementerian PPPA tetap berkomitmen mengawal pemenuhan hak anak dalam pelaksanaan program tersebut.

Psikolog dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, mengingatkan bahwa materi yang diajarkan dalam pendidikan harus menjadi perhatian utama.

"Enggak masalah di barak. Tapi apa materi yang diberikan di sana. Perilaku apa yang mesti diubah," ujar Rose Mini.

Ia menekankan pentingnya kesadaran moral dalam diri anak. Pengasuhan yang baik, kata dia, tak hanya soal kedisiplinan eksternal, tetapi juga menyentuh kesadaran internal.

"Jangan anak takut karena ada yang mengawasi, tetapi dia harus tahu bahwa hal tersebut tidak boleh dia lakukan karena itu hal yang buruk," katanya.

Program pendidikan karakter berbasis barak militer di Jawa Barat ini membuka ruang diskusi luas tentang pendekatan terbaik dalam mengatasi kenakalan remaja. Terlepas dari pro dan kontra, yang terpenting adalah memastikan bahwa setiap anak mendapatkan pembinaan dengan tetap menghormati hak-haknya sebagai individu yang sedang bertumbuh dan berkembang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Memahami Kaum Furry, Orang-orang yang Mengidentifikasi Dirinya sebagai Binatang
    Nah thats right thank you ~
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Mesir Coba Redam Titik Didi...
Advertisement
Gila, 350 Rekor Lahir di Asian Games Jepang

Gila, 350 Rekor Lahir di Asian Games Jepang

04 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.