Sekolah di Barak, Strategi Pemprov Jabar Bentuk Karakter Remaja
📅 Rabu, 21 Mei 2025, 13:01 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA
JAKARTA – Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah menjalankan program pembinaan karakter berbasis kedisiplinan militer bagi siswa sekolah lanjutan tingkat atas yang terindikasi memiliki masalah perilaku.
Program ini berlangsung di barak militer dan diinisiasi sebagai bentuk respons terhadap persoalan kenakalan remaja yang masih menjadi tantangan serius di wilayah tersebut.
Sejak 2 Mei 2025, sebanyak 272 siswa dari 106 sekolah di Jawa Barat telah mengikuti program ini. Peserta terdiri dari siswa-siswa yang berasal dari 6 SMA, 15 SMK swasta, 53 SMA negeri, dan 32 SMK negeri.
Para siswa mengikuti pendidikan di dua lokasi utama, yaitu Barak Militer Resimen 1 Shira Yudha Purwakarta dan Depo Pendidikan Bela Negara Rindam III Siliwangi, Cikole, Kabupaten Bandung Barat.
Kegiatan berlangsung selama 30 hari, terdiri dari dua hari masa orientasi, 14 hari pendidikan tingkat dasar, dan 14 hari pendidikan lanjutan. Durasi dan tingkat pendidikan disesuaikan dengan perkembangan capaian kompetensi perilaku masing-masing peserta.
Sebaiknya Anda baca juga:
Program ini menyasar siswa yang kerap melakukan tindakan indisipliner berat seperti tawuran, bermain gim secara berlebihan, merokok, mabuk, balapan liar, menggunakan knalpot bising, penyalahgunaan narkoba, dan berbagai perilaku menyimpang lainnya.
Gebrakan ala Jabar
Program yang dikenal sebagai Pendidikan Barak Militer ini merupakan bagian dari inisiatif "Panca Waluya Jawa Barat Istimewa" yang diusung oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Tujuannya adalah membentuk karakter peserta didik yang cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), pinter (cerdas), dan singer (tangguh).
Sebaiknya Anda baca juga:
"Sasarannya adalah siswa sekolah jenjang menengah atas yang terindikasi melakukan tindakan indisipliner level berat melalui berbagai indikator," ujar Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jawa Barat, dr. Siska Gerfianti.
Menurut Siska, terdapat 45 indikator kenakalan remaja yang umum terjadi dan kerap merugikan diri sendiri maupun lingkungan. Bentuknya meliputi perundungan, penyalahgunaan narkoba, pelecehan seksual, tawuran, balapan liar, geng motor, merokok, mabuk-mabukan, hingga bolos sekolah.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Open Data Jawa Barat menunjukkan bahwa jumlah kasus kenakalan remaja mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir, yaitu sebanyak 12.345 kasus pada 2020, turun menjadi 11.567 kasus pada 2021, dan 10.890 kasus pada 2022.
"Memang ada penurunan jumlah kasus antara 2020 sampai dengan 2022 sebesar 12,05 persen, namun penurunan ini masih belum cukup signifikan. Kenakalan remaja di Jawa Barat ini merupakan masalah sosial yang kompleks dan membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak," tutur Siska.
Pendekatan ketarunaan yang digunakan dalam program ini bertujuan menanamkan nilai-nilai kebangsaan, membangun kedisiplinan, serta memperkuat integritas dan tanggung jawab sosial peserta. Meski berlokasi di barak militer, siswa tetap mendapatkan pembelajaran formal.
Masih perlu perbaikan
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!