Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Sawit Dilarang, Apkasindo ke Dedi Mulyadi: Jangan Tutup Telinga, Ayo Dialog Dulu!

📅 Kamis, 01 Jan 2026, 16:25 WIB | Oleh: Tim Penulis
Sawit Dilarang, Apkasindo ke Dedi Mulyadi: Jangan Tutup Telinga, Ayo Dialog Dulu! Doc: Antara/HO/Dokumentasi pribadi
Ket. Ilustrasi - Seorang warga melintas perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

JAKARTA – Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) mengajak Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk duduk satu meja sebelum kebijakan dijalankan sepenuhnya.

Menurut Apkasindo, larangan penanaman sawit baru dan rencana penggantian tanaman yang sudah ada perlu dibicarakan bersama seluruh pemangku kepentingan, terutama petani dan pekerja sawit yang terdampak langsung.

Bagi Apkasindo, dialog menjadi kunci agar kebijakan lingkungan tidak berujung pada kegelisahan di tingkat akar rumput.

Petani membutuhkan kejelasan soal komoditas pengganti, masa transisi, hingga jaminan keberlanjutan pendapatan. Tanpa skema yang matang, alih tanaman berisiko memindahkan masalah dari krisis ekologi ke krisis sosial-ekonomi.

Organisasi ini menilai, ruang komunikasi yang terbuka justru bisa memperkuat tujuan kebijakan itu sendiri.

Dengan melibatkan petani sejak awal, upaya menjaga lingkungan tetap bisa berjalan seiring dengan perlindungan terhadap mata pencaharian, sehingga solusi yang lahir tidak hanya ramah alam, tetapi juga adil bagi manusia.

Wakil Ketua Umum Apkasindo Bidang Komunikasi Qayuum Amri dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (1/1), menyatakan, kebijakan Gubernur Jabar yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi atau KDM melarang penanaman sawit dan mengganti tanaman tersebut dengan komoditas lain sebagai diskriminatif dan mengabaikan perkebunan sawit yang puluhan tahun sudah ada di Bumi Pasundan.

Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Gubernur Jawa Barat bernomor 187/PM.05.02.01/Perek Tentang Larangan Penanaman Kelapa Sawit Di Wilayah Provinsi Jawa Barat.

"Kami berharap KDM dapat mengkaji ulang surat edaran tersebut dan membuka ruang dialog dengan semua pihak termasuk petani serta pekerja sawit. Sebab, ada puluhan ribu orang yang bergantung hidupnya dari perkebunan sawit di Jawa Barat," ujar Qayuum.

Menurut dia, kebijakan Gubernur Dedi Mulyadi selain diskriminatif juga reaksioner terhadap tanaman sawit, apalagi keluarnya SE tersebut tidak disertai data dan bukti ilmiah bahwa kelapa sawit membuat krisis air bersih dan bencana ekologi di Jawa Barat.

Sawit, tambahnya, merupakan berkah dari Tuhan untuk Indonesia, tidak semua negara seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa bisa tanam sawit, seharusnya Indonesia bersyukur dan mengelola sawit lebih baik, bukan melakukan pelarangan.

Oleh karena itu kebijakan tersebut seharusnya dikaji lebih mendalam dengan melibatkan pemangku kepentingan lain seperti perguruan tinggi dan lembaga penelitian.

Apalagi tanaman sawit telah tumbuh di Jawa Barat selama puluhan tahun. Selama masa itu, tidak ada fakta dan data yang membuktikan perkebunan sawit penyebab banjir dan kesulitan air bersih.

Berdasarkan data Apkasindo, perkebunan sawit milik petani di Jawa Barat terpusat di Subang, Garut, Pangandaran, dan Tasikmalaya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Armenia Terbelah Dua Kubu A...
Nasional
DPR Dorong Distribusi Digit...
Luar Negeri
Pekerja Mogok Kerja, Layana...
Daerah
Bangka Tengah Tanam Padi Go...
Luar Negeri
Aset Beku Iran Cair, Trump ...
Nasional
Kemenbud Dorong Pelurusan S...
Ada Event Lari Lintas Alam, Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup Seminggu

Ada Event Lari Lintas Alam, Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup Seminggu

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.