Tradisi Gandang Ahung Suku Dayak: Tak Hanya Musik Tapi Juga Cara Hidup
📅 Sabtu, 17 Mei 2025, 15:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation
Muhammad Rayhan Sudrajat, Universitas Katolik Parahyangan
Suatu hari sebelum fajar di tahun 2015, saya menempuh perjalanan sejauh 109 kilometer dari Palangka Raya ke sebuah desa di daerah aliran Sungai Katingan, Kalimantan Tengah. Setibanya di sana, suara Gandang Ahung, gong ensambel sakral dalam upacara kematian Tiwah, menggetarkan dada saya. Frekuensinya memenuhi seluruh ruang, menyatukan manusia, roh, dan alam dalam satu tarikan napas. Beberapa orang menutup mata, hutan di luar seolah ikut bersenandung.
Di tengah lantunan itu, ritual dimulai: para peserta bergerak, menari mengelilingi lapangan tempat upacara Tiwah digelar. Gerak tangan dan kaki yang khas mengikuti irama, disambut dengan baram, minuman tradisional khas Katingan.
Bunyi Gandang Ahung terus bergema, mengundang roh-roh dari hulu dan hilir untuk hadir dan menerima persembahan darah dari hewan kurban, sebuah bagian penting untuk memastikan arwah bisa menempuh jalan ke alam atas yang oleh penduduk lokal disebut sebagai “Lewu Rami je dia Kasene Beti Lewu Tatau Habaras Bulau Rundung Janah dia Bakalesu Uhat,” desa abadi yang penuh kemuliaan dalam kosmologi agama Hindu-Kaharingan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Gandang Ahung bukan hanya warisan budaya, melainkan bagian tak terpisahkan dari cara komunitas suku Dayak Katingan Awa memahami hidup, kematian, dan hubungan mereka dengan alam.
Namun ritual sakral ini kini terancam hilang karena maraknya penebangan hutan di Kalimantan. Selain itu, pergeseran budaya akibat modernisasi juga perlahan-lahan menggerus bukan hanya lingkungan fisik, tetapi juga lanskap bunyi, kosmologi, dan ritus seperti Tiwah. Jika bebunyian ini hilang, maka hilang pula cara berpikir yang telah diwariskan dari lintas generasi.
Upacara Tiwah: Ketika bunyi menjadi tradisi
Sebaiknya Anda baca juga:
Tiwah adalah upacara kematian tingkat kedua dalam tradisi Suku Dayak Katingan Awa, sebuah proses kolektif yang tidak hanya mengurus jenazah, tetapi juga mengatur ulang hubungan antara manusia, roh, dan alam.
Selama berbulan-bulan, keluarga, tetangga, dan pemuka agama bekerja sama menyiapkan prosesi ini. Dalam upacara ini, tidak ada “penonton”, semua adalah partisipan. Anak-anak membantu, para pisur (pemuka agama), memimpin, dan seluruh komunitas mendengarkan bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan kehadiran penuh.
Dalam Tiwah, bunyi bukanlah sebuah hiburan. Ia menjadi bahasa untuk berbicara dengan roh, untuk mengenang yang telah pergi, dan mengikat kembali jejaring kehidupan yang rapuh.
Gandang Ahung, dengan gema dan vibrasinya, memainkan peran sentral dalam upacara Tiwah: ia membuka jalan bagi liau (roh) untuk mencapai Lewu Tatau.
Menariknya, Gandang Ahung tak pernah terdengar sama karena bisa dibawa ke mana saja tergantung dengan kebutuhan dari sebuah ritual. Ini menegaskan bahwa suara tidak terpisah dari tanah, sungai, dan pepohonan di sekitarnya.
Di Barat, musik diajarkan lewat notasi, tempo, dan teknik. Tapi di Katingan Awa, bunyi mengalir dari relasi, antara pemain, komunitas, dan roh. Saat memainkan Gandang Ahung dalam upacara Tiwah, pemain tidak sekadar mengikuti ketukan; ia menyesuaikan pukulannya dengan gerak tubuh penari. Nada tidak ditentukan dari partitur, melainkan dari rasa, apa yang “tepat” di saat itu, menurut hubungan yang terjalin di ruang ritual. Di sinilah bunyi menjadi cara berkomunikasi, bukan sekadar pertunjukan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!