Tradisi Gandang Ahung Suku Dayak: Tak Hanya Musik Tapi Juga Cara Hidup
📅 Sabtu, 17 Mei 2025, 15:30 WIB | Oleh: Tim PenulisSaya berdiskusi dengan pisur seperti Pak Napin dan Pak Senty, yang menjelaskan bahwa permainan Gandang Ahung tidak diukur dalam hitungan ketukan, melainkan dengan napas dan intuisi dalam tempo. Tabuhan yang lambat adalah irama yang tepat untuk upacara Tiwah, tidak boleh terlalu cepat karena salah satu fungsi permainan Gandang Ahung adalah untuk mengiringi tari Manganjan, sebuah tarian yang dikhususkan untuk upacara Tiwah.
Menjaga bunyi, merawat kehidupan
Penebangan hutan, pencemaran sungai, dan penggusuran komunitas adat tidak hanya mengancam lingkungan fisik. Ia juga menghapus lanskap akustik yang menjadi bagian dari ritual dan kosmologi lokal.
Saat hutan hilang, bukan hanya spesies yang punah, suara-suara seperti Gandang Ahung dan makna mendalam yang dikandungnya juga perlahan memudar. Sebab, alat musik ini tak sekadar dimainkan, melainkan dihidupkan dalam konteks ritual yang bergantung pada alam: kayu untuk membuat gendang, tempat untuk upacara tiwah di tengah kampung, dan kehadiran roh-roh yang diyakini bersemayam di pepohonan, danau dan sungai.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketika hutan ditebang atau disulap menjadi perkebunan sawit, ruang untuk bunyi-bunyi sakral itu ikut hilang. Bersamanya, hilang pula cara komunitas memahami hidup, kematian, dan hubungan dengan alam.
Hindu-Kaharingan sendiri, meski diakui negara, sering kali hanya dilihat sebagai “folklore” atau “tradisi usang”. Praktik-praktik seperti Tiwah jarang mendapat ruang di media arus utama, apalagi di dunia akademis nasional.
Jika Indonesia sungguh berkomitmen pada pendidikan dan pelestarian budaya, kita harus mulai memandang tradisi bunyi seperti Gandang Ahung bukan sekadar artefak, tetapi sebagai filsafat hidup dan tradisi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tradisi ini memiliki sistem, etika, dan metodologi sendiri, setara dengan teori musik klasik manapun. Sehingga, ia perlu diajarkan, dihormati, dan dihidupi, bukan sekadar didokumentasikan lalu dilupakan.
Upaya konkret yang dapat dilakukan meliputi perlindungan hutan adat sebagai lanskap bunyi, integrasi pendidikan musik berbasis lokal di sekolah-sekolah, serta pendokumentasian ritus berbasis partisipasi aktif komunitas.
Hal ini sudah dilakukan oleh program Schools of Living Traditions (SLT) di Filipina yang dikelola oleh Komisi Nasional untuk Kebudayaan dan Seni (NCCA). Mereka berhasil melestarikan seni dan musik tradisional melalui pendidikan non-formal yang melibatkan para ahli budaya lokal sebagai pengajar. Program ini diakui UNESCO sebagai praktik terbaik dalam menjaga warisan budaya takbenda.
Langkah-langkah ini penting agar bunyi-bunyi seperti Gandang Ahung tidak hanya menjadi objek nostalgia, melainkan tetap menjadi praktik hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Katingan Awa dan Indonesia.
Muhammad Rayhan Sudrajat, Ethnomusicologist & Lecturer, Universitas Katolik Parahyangan
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!