RI Jangan Lengah dengan Meredanya Perang Dagang AS dan Tiongkok
📅 Kamis, 15 Mei 2025, 01:30 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: antara
JAKARTA - Pemerintah diminta tidak lengah atas mulai meredanya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok setelah tercapai kesepakatan sementara dalam pertemuan delegasi mereka di Jenewa, Swiss pekan lalu.
Pakar ekonomi dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sekar Utami Setiastuti mengatakan semua negara harus tetap waspada
karena sikap Presiden Trump yang bisa saja berubah.
“Itu kan baru perundingan pertama. Tapi kita belum lihat sama negara lain juga kayak gimana. Jadi, enggak bisa terus kita santai-santai, tetap harus resilien dan tetap harus waspada,” kata Sekar dalam EB Journalism Academy di FEB UGM, Yogyakarta, Rabu (14/5).
Perundingan antara AS dan Tiongkok di Jenewa pekan lalu diakui memang menghasilkan kesepakatan untuk saling menurunkan tarif impor selama 90 hari. Hal itu menjadi sinyal meredanya ketegangan perang dagang untuk sementara waktu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain tetap waspada, Pemerintah RI jelas Sekar harus bersiap jika sewaktu-waktu dampak perang dagang itu benar-benar terasa terhadap perekonomian dalam negeri.
“Kalau ada dampak negatif, ya gimana cara kita kasih stimulus ke yang memang terdampak. Misalnya dalam jangka panjang ada satu sektor yang terdampak, ya berarti kan memang mungkin di situ nanti perlu ada stimulus ke sektor-sektor tertentu,” kata Sekar.
Ia mengatakan gejolak ekonomi global akibat perang dagang umumnya tercermin dalam aktivitas ekspor dan impor. Jika perlambatan terjadi di level global, ekspor Indonesia berpotensi ikut terpengaruh.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kalau kita kemudian demand-nya turun, mungkin impor kita juga akan turun. Net ekspornya enggak akan turun terlalu banyak. Jadi agak sedikit delicate (rumit), memang harus dilihat supply chain (rantai pasok) kita itu kayak gimana, jelas Sekar seperti dikutip dari Antara.
Ia juga menilai inflasi domestik sampai saat ini relatif masih terkendali. Meski begitu, potensi inflasi impor tetap harus diperhatikan, terutama jika harga bahan pokok terdampak.
“Kalau kita, khawatirkan import inflation, sebenarnya mungkin masih ada space. Cuma memang khawatirnya itu kalau kemudian terjadi kenaikan di harga-harga bahan pokok. Itu yang nanti mungkin memberikan dampak langsung,” katanya.
Sekar pun mengingatkan pemerintah agar tidak menganggap enteng dampak perang dagang dengan melontarkan respons yang tepat ke publik.
“Pemerintah harus tetap melihat efeknya kayak gimana. Jangan terus merasa aman dan tahan banting, padahal situasi bisa berubah cepat,” kata Sekar.
Meskipun tensi dagang AS-Tiongkok saat ini tampak mulai mereda, namun kondisi global jelasnya tetap tidak menentu dan bisa kembali berubah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!