RI Jangan Lengah dengan Meredanya Perang Dagang AS dan Tiongkok
📅 Kamis, 15 Mei 2025, 01:30 WIB | Oleh: Tim Redaksi“Walaupun kemudian Trump seolah sudah melunak, itu bukan berarti bahwa masalahnya selesai,” kata Ketua Program Studi Sarjana Ilmu Ekonomi FEB UGM itu.
Perubahan Besar
Pada kesempatan terpisah, pengamat kebijakan publik Fitra, Badiul Hadi sepakat bahwa pemerintah tidak bisa menganggap bahwa keputusan AS dan Tiongkok akan langsung membawa perubahan besar pada pasar global, meskipun kesepakatan saat ini sebagai bagian dari upaya menuju ke sana.
Semua orang tahu bahwa presiden Trump memiliki gaya kepemimpinan unpredictable sedari periode pertama saat memimpin AS. “Misalnya tiba tiba, dia menaikkan tarif terhadap berbagai produk Tiongkok di tengah negosiasi sedang berjalan. Artinya, meredanya tensi perang dagang kedua negara bukan jaminan untuk jangka panjang,” papar Badiul.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perjanjian dagang AS dan Tiongkok saat ini seperti fase awal perjanjian pada tahun 2020 yang tidak menyelesaikan akar masalah struktural, seperti subsidi industri, pencurian kekayaan intelektual. Kesepakatan yang dicapai bersifat sementara dan ketegangan bisa terjadi kembali kapan saja.
Di sisi lain, perang dagang AS dengan Tiongkok bukan satu-satunya faktor ketidakpastian global, tidak boleh mengabaikan potensi dari negara lain, seperti ketegangan geopolitik Russia-Ukraina, konflik di laut Tiongkok Selatan, dan juga dinamika di Timur Tengah serta terakhir ketegangan antara India dan Pakistan di Kashmir.
Situasi seperti itu direspon banyak negara dengan mengeluarkan kebijakan deglobalisasi dan proteksionisme yang dapat menganggu perdagangan dunia dan memengaruhi ekspor Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Sebab itu, sangat penting resiliensi ekonomi domestik, memperbaiki iklim investasi domestik, memperkuat industri pengolahan, usaha mikro.kecil dan menengah (UMKM), dan Indonesia perlu diversifikasi pasar ekspor, untuk mengurangi ketergantungan pada pasar AS dan Tiongkok,” kata Badiul.
Dalam jangka panjang, agar ekonomi tahan guncangan, perlu memperkuat daya saing produk lokal dan rantai pasok domestik. Sebab itu, diperlukan kebijakan yang responsif dan adaptif terhadap fluktuasi tarif, embargo, atau perubahan perjanjian perdagangan.
Sebagaimana diberitakan, AS dan Tiongkok telah sepakat melonggarkan tarif secara signifikan selama 90 hari yang memberi harapan baru bagi stabilitas ekonomi jangka panjang. Kesepakatan itu diumumkan dalam suatu pernyataan bersama yang disiarkan oleh pemerintah AS pada Senin (12/5) setelah negosiasi intensif akhir pekan lalu di Jenewa, Swiss.
Kedua negara akan memangkas bea masuk atas produk masing-masing secara drastis. AS akan menurunkan tarif atas barang-barang asal Tiongkok dari 145 persen menjadi 30 persen, sementara Tiongkok akan menurunkan tarif atas produk AS dari 125 persen menjadi 10 persen paling lambat 14 Mei. Meskipun bersifat sementara, kesepakatan itu menjadi langkah paling signifikan dalam upaya meredakan ketegangan dagang selama beberapa tahun terakhir, sekaligus memberi angin segar bagi pasar global yang selama ini dihantui ketidakpastian.
Peneliti Pusat Riset Pengabdian Masyarakat (PRPM) Institut Shanti Bhuana, Bengkayang, Kalimantan Barat, Siprianus Jewarut mengatakan untuk menyeimbangkan neraca perdaganan AS dan Tiongkok itu, maka satu-satunya cara yang harus dilakukan adalah Tiongkok mengimpor barang lebih besar dari AS. Sebagai konsekuensinya, Tiongkok kemungkinan akan mengurangi impor dari negara lain, terutama barang atau komoditas yang bisa diimpor dari AS.
Impor Tiongkok dari negara lain jelas berkurang, termasuk dari Indonesia khususnya komoditas seperti batu bara, minyak sawit mentah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!