Paus Leo XIV Hadapi Keterbatasan dalam Mereformasi Gereja Katolik, Tetapi Fransiskus Sudah Membuka Jalan
📅 Minggu, 11 Mei 2025, 15:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: rcdea.org
Dennis Doyle, University of Dayton
Kardinal Robert Prevost, dari Amerika Serikat (AS), terpilih sebagai pemimpin baru Gereja Katolik Roma. Ia menggunakan nama Paus Leo XIV.
Visi apa yang akan dibawa oleh paus pertama dari AS ini?
Cukup sulit untuk melakukan perubahan di Gereja Katolik. Selama masa kepausannya, Paus Fransiskus melakukan perubahan tanpa benar-benar mengubah doktrin gereja.
Paus Fransiskus mengizinkan diskusi tentang penahbisan laki-laki yang sudah menikah di daerah terpencil—di mana pelayanan sangat kurang karena minimnya tokoh agama, tetapi dia tidak benar-benar membolehkannya. Atas inisiatifnya sendiri, ia membentuk sebuah komisi untuk mempelajari kemungkinan penahbisan perempuan sebagai diakon, tetapi ia tidak melanjutkannya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, dia mengizinkan para imam untuk menawarkan Ekaristi—sakramen Katolik penting tentang tubuh dan darah Kristus—kepada umat Katolik yang telah bercerai dan menikah lagi tanpa perlu pembatalan.
Fransiskus tidak serta merta mengubah ajaran resmi bahwa pernikahan sakramental adalah antara laki-laki dan perempuan, tetapi dia mau memberkati pasangan gay—dengan cara yang tampak seakan menyetujui pernikahan sesama jenis.
Sejauh mana paus baru melanjutkan, atau tidak melanjutkan, perubahan yang dimulai oleh Fransiskus?
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai cendekiawan yang telah mempelajari tulisan dan tindakan para paus sejak masa Konsili Vatikan Kedua—serangkaian pertemuan yang diadakan untuk memodernisasi gereja selama periode 1962-1965—saya meyakini bahwa setiap paus membawa visi dan agendanya sendiri dalam memimpin gereja.
Namun, para paus pendahulunya selalu menetapkan batasan terhadap apa yang bisa diubah. Fransiskus juga punya batasan. Namun, saya berpendapat bahwa paus baru akan memiliki lebih banyak kebebasan karena sinyal yang diberikan oleh Fransiskus.
Proses sinodalitas
Fransiskus memulai sebuah proses yang disebut “sinodalitas,” sebuah istilah yang menggabungkan dua kata Yunani, yaitu “perjalanan” dan “bersama.” Sinodalitas melibatkan pengumpulan umat Katolik dari berbagai tingkatan dan sudut pandang untuk berbagi mengenai keimanan dan berdoa satu sama lain dalam menghadapi tantangan gereja saat ini.
Salah satu aspek yang kerap digaungkan Fransiskus adalah inklusi. Dia meneruskan ajaran Konsili Vatikan Kedua bahwa Roh Kudus—Roh Tuhan yang diyakini dikirim oleh Kristus di antara pemeluk Kristen dengan cara yang istimewa—menaungi seluruh gereja, tidak hanya secara hierarki tetapi juga semua anggota gereja. Keyakinan ini merupakan prinsip utama dari sinodalitas.
Francis meluncurkan proses konsultasi global selama dua tahun pada Oktober 2022. Puncaknya adalah sinode di Roma pada Oktober 2024, momen ketika umat Katolik di seluruh dunia memberikan masukan dan pendapat mereka.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!