Halalbihalal PWI Jateng: Merawat Silaturahim, Menyatukan Hati, dan Visi Pewarta
📅 Jumat, 25 Apr 2025, 16:25 WIB | Oleh: Henri pelupessy
Doc: koran jakarta/henri pelupessy
SEMARANG – Meski dalam suasana kantor yang sedang direnovasi, kehangatan dan kebersamaan tetap mengalir di tengah acara halalbihalal keluarga besar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah, Kamis (24/4).
Bertempat di Gedung Pers, Jalan Tri Lomba Juang No 10, Kota Semarang, Jawa Tengah, kegiatan ini mengusung tema reflektif dan inspiratif “Satu Hati, Satu Visi.”
Suasana guyub pun tercipta, dibalut dalam nuansa Syawal yang penuh makna. Acara ini juga menghadirkan tausiyah dari Drs KH Ahmad Hadlor Ihsan, yang menyampaikan pesan spiritual sekaligus relevan bagi dunia kewartawanan masa kini.
Ketua PWI Jateng Amir Machmud NS mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya kembali halalbihalal yang telah menjadi tradisi PWI sejak lama.
Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh anggota untuk terus menjaga nilai-nilai komunikasi yang hangat dan bermartabat, baik antarwartawan maupun dengan mitra kerja.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Tema ‘Satu Hati, Satu Visi’ sengaja kami pilih sebagai pengingat bahwa interaksi kita—dengan siapa pun—harus berangkat dari ketulusan hati. Kami ingin membangun relasi yang tidak sekadar administratif, tapi juga intelektual,” tegasnya.
Amir juga mengapresiasi upaya PWI untuk memperkuat jejaring dengan kalangan akademisi. Sejak empat tahun terakhir, PWI Jateng aktif menjalin dialog dengan para rektor perguruan tinggi swasta sebagai bagian dari misi intelektualisasi organisasi kewartawanan.
“Kami ingin pewarta juga hadir sebagai intelektual publik, bukan hanya pembawa berita. Ini ikhtiar agar PWI bisa terus tumbuh relevan dan menjadi mitra berpikir strategis di ruang publik,” tambahnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menguatkan pesan tersebut, KH Ahmad Hadlor Ihsan dalam tausiyahnya membentangkan benang merah antara peran pewarta di masa kini dengan para perawi hadis di masa Rasulullah.
“Tanpa pewarta, kita tidak akan tahu sabda dan tindakan Rasul. Dulu ada Abu Hurairah, kini ada jurnalis—dua-duanya menyampaikan kebenaran,” tuturnya, memantik kesadaran spiritual para pewarta yang hadir.
Kiai Hadlor juga menyampaikan analogi menarik soal makna "kesehatan spiritual" pasca-Ramadan. Ia mengibaratkan tubuh manusia seperti mobil: jika semua komponen sehat dan patuh pada pengemudinya, maka kendaraan akan sampai ke tujuan. Tapi jika mobil justru "melawan" arah, maka yang repot adalah orang lain.
“Jiwa yang sehat adalah jiwa yang patuh. Seperti penunggang kuda yang tahu arah. Kalau penunggangnya buta, meski kudanya sehat, dia tidak akan sampai tujuan. Sama halnya dengan jiwa kita—ia harus tetap terang agar hidup tidak salah jalan,” ujarnya penuh makna.
Acara ini juga dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Kabid Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Jateng Moch Faizin, anggota pembina Yayasan Alumni Undip Ir Soeharsojo IPU, Wakil Ketua Komisi Informasi Provinsi Setiadi, mantan Ketua PWI Jateng Soetjipto SH, Ketua PWI Surakarta Anas Syahirul Alim, serta jajaran pengurus dan anggota IKWI (Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia) yang diketuai Ummi Munawaroh AM.
Meski sederhana, acara halalbihalal ini menjadi penegas bahwa jurnalisme bukan hanya tentang berita, tetapi juga tentang nilai, kebersamaan, dan komitmen terhadap kebenaran.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!