Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

IDAI Sebut Komunikasi Empatik dari Nakes Kunci Efektivitas dalam Imunisasi

📅 Rabu, 09 Apr 2025, 23:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
IDAI Sebut Komunikasi Empatik dari Nakes Kunci Efektivitas dalam Imunisasi Doc: Antara
Ket. Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso

Jakarta - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan sejumlah rekomendasi bagi sejumlah pihak terkait guna meningkatkan cakupan imunisasi dengan menggarisbawahi komunikasi yang jujur dan empatik oleh tenaga kesehatan sebagai salah satu kuncinya.

Ketua IDAI Piprim Basaran Yanuarso menyebutkan bahwa salah satu sebab penolakan terhadap vaksinasi adalah karena umat islam takut melanggar syariat. Selain itu, tidak semua daerah punya akses ulama yang paham akan persoalan medis.

"Nakes bukan sekadar tenaga klinis yang juru suntik doang, tetapi juga hendaklah menjadi komunikator yang empatik. Masyarakat butuh pendekatan manusiawi, bukan hanya data ilmiah," kata Piprim dalam webinar berjudul "Imunisasi dalam Perspektif Islam untuk Kesejahteraan Masyarakat" di Jakarta, Rabu (9/4).

Dia melanjutkan masalah lainnya berupa hoaks seputar imunisasi yang marak disebarkan, contohnya isu kandungan vaksin yang haram, atau imunisasi hanyalah proyek untuk mencari untung. Terlebih lagi, katanya, narasi yang sesat lebih dipercaya jika yang menyebarkannya adalah orang terdekat.

Untuk mengatasinya, kata Piprim, tenaga kesehatan perlu menjelaskan tentang vaksin dan imunisasi dengan bahasa yang mudah dipahami dan sopan.

"Jadi kunci komunikasi efektif adalah yang sederhana, hindari jargon medis. Ceritakan kisah nyata. Testimoni orang tua, atau pakai animasi yang mudah dipahami pasien. Nakes jadi teladan, vaksin anak sendiri," kata dia.

Menurutnya, teknologi akal imitasi (AI) dapat dimanfaatkan untuk hal ini, misalnya untuk membuatkan narasi yang bisa dipahami kelompok tertentu, misalnya dengan bahasa Sunda, bahasa Jawa, bagi yang tidak paham bahasa Indonesia.

Dia mengatakan imunisasi bukan hanya persoalan medis, namun juga tentang keimanan, nilai, serta kemaslahatan, sehingga ilmu dan iman perlu disinergikan dalam upaya imunisasi guna menjaga anak yang merupakan amanah Tuhan.

Selain komunikasi efektif oleh nakes, Piprim menyebut perlunya melibatkan tokoh agama, alim ulama, serta komunitas dalam hal ini, karena edukasi yang dilakukan bersama kelompok-kelompok tersebut dapat meningkatkan kepercayaan terhadap imunisasi. Keselarasan dalam fatwa antartokoh agama diperlukan.

"Ada banyak pilihan mazhab di situ. Tetapi kita bisa ikut pilihannya Majelis Ulama Indonesia (MUI). Di situ MUI sangat mendukung terhadap imunisasi," kata dia mencontohkan.

Dia menambahkan masyarakat juga perlu menjadi agen perubahan dengan membangun budaya klarifikasi informasi serta edukasi. Orang tua merupakan contoh bagi anak dalam membudayakan literasi, sehingga orang tua perlu mengajak anaknya berdiskusi tentang kesehatan sejak dini.

Transparansi, dia melanjutkan, juga perlu dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini, misalnya dengan mendukung produksi vaksin menggunakan bahan-bahan yang halal sejak awal, sehingga tidak ada lagi konflik tentang halal atau haramnya vaksin.

Piprim mengatakan bahwa Islam mendukung upaya untuk menjaga kesehatan, termasuk imunisasi bagi anak-anak, karena menjaga jiwa adalah tujuan utama syariat, bahkan berobat adalah sebuah perintah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Jakarta Ikut Serta Menyukseskan 100 Tahun Sumpah Pemuda

21 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Jakarta Ikut Serta Menyukse...
Luar Negeri
Dilanda Gelombang Panas, Pr...
Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp57.250/...
Megapolitan
Hari Pertama Sekolah, ASN P...

Rupiah Merosot hingga Rp18.090 per Dollar AS

50 menit yang lalu | Lili Lestari

Ekonomi
Rupiah Merosot hingga Rp18....
100% Dalam 4 Menit , Tiongkok Kembangkan Baterai Natrium yang Diklaim Awet Bertahun-tahun

100% Dalam 4 Menit , Tiongkok Kembangkan Baterai Natrium yang Diklaim Awet Bertahun-tahun

13 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.