Serikat Pemain Bentukan Djokovic Gugat Asosiasi Tenis Dunia
📅 Rabu, 19 Mar 2025, 08:00 WIB | Oleh: Benny Mudesta Putra
Doc: AFP
MIAMI GARDENS, AMERIKA SERIKAT - Serikat pemain tenis yang didirikan bersama oleh Novak Djokovic mengumumkan bahwa mereka telah mengajukan serangkaian gugatan hukum terhadap asosiasi pengelola olahraga tersebut, menuduh adanya pembatasan anti-persaingan serta praktik yang merugikan.
Asosiasi Pemain Tenis Profesional (Professional Tennis Players' Association / PTPA) menyatakan bahwa mereka menggugat dua penyelenggara tur utama, yakni Asosiasi Tenis Profesional (ATP) dan Asosiasi Tenis Wanita (WTA).
Selain itu, Federasi Tenis Internasional (ITF) serta Badan Integritas Tenis Internasional (ITIA) juga tercantum sebagai tergugat dalam gugatan yang diajukan di Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Eropa.
Baik ATP maupun WTA merespons dengan menegaskan bahwa mereka akan membela diri dari tuduhan tersebut. ATP menyebut bahwa PTPA "terus-menerus memilih perpecahan dan disinformasi ketimbang berkontribusi pada kemajuan olahraga tenis.”
Didirikan oleh Djokovic dan petenis Kanada, Vasek Pospisil, pada tahun 2020, PTPA kini mendapat dukungan dari sekitar 20 pemain yang terlibat dalam setidaknya satu gugatan hukum ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Gugatan ini mengungkap penyalahgunaan sistematis, praktik anti-persaingan, serta pengabaian terang-terangan terhadap kesejahteraan pemain yang telah berlangsung selama puluhan tahun,” demikian pernyataan PTPA.
“ATP, WTA, ITF, dan ITIA beroperasi layaknya kartel, dengan menerapkan berbagai aturan anti-persaingan yang ketat serta praktik yang tidak adil.”
“Di balik citra glamor yang dipromosikan para tergugat, para pemain sebenarnya terperangkap dalam sistem yang tidak adil. Sistem ini mengeksploitasi bakat mereka, menekan pendapatan mereka, serta membahayakan kesehatan dan keselamatan mereka,” ujar Ahmad Nassar, Direktur Eksekutif PTPA.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam pernyataan resminya, PTPA merinci sejumlah dugaan pelanggaran yang menjadi sasaran gugatan. Menurut mereka, para tergugat "bersekongkol" dengan cara "mengontrol jumlah hadiah uang serta menekan pendapatan pemain," memaksakan "jadwal yang tidak manusiawi," serta mengeksploitasi pemain secara finansial.
Asosiasi tersebut juga dituduh menunjukkan "pengabaian terhadap kesejahteraan pemain" dengan memaksa mereka bertanding dalam suhu ekstrem hingga 100 derajat Fahrenheit (sekitar 37°C), menyelesaikan pertandingan di pukul 3 pagi, serta bermain dengan bola tenis yang berbeda-beda dan berisiko menyebabkan cedera.
PTPA juga menyoroti berbagai isu lain, termasuk hak atas citra pemain, pembatasan sponsor, serta "sistem peringkat yang terlalu ketat." Selain itu, mereka menuduh bahwa dunia tenis melanggar privasi pemain.
“Pemain dipaksa menjalani pemeriksaan perangkat pribadi yang invasif, tes doping acak di tengah malam, serta interogasi tanpa didampingi penasihat hukum,” lanjut pernyataan PTPA.
ATP membalas kritik tersebut dengan menegaskan bahwa mereka telah melakukan reformasi berdasarkan masukan dari para pemain, serta menuding PTPA menyebarkan informasi yang menyesatkan.
“Sementara ATP tetap fokus menjalankan reformasi yang membawa manfaat bagi pemain di berbagai tingkatan, PTPA terus-menerus memilih perpecahan dan disinformasi ketimbang berkontribusi pada kemajuan olahraga,” ujar ATP dalam pernyataannya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!