Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Raksasa Properti Tiongkok Rugi 45 Miliar Yuan

📅 Selasa, 04 Feb 2025, 02:00 WIB | Oleh:
Raksasa Properti Tiongkok Rugi 45 Miliar Yuan Doc: antara
Ket. Krisis Properti Tiongkok

BEIJING - Pada tahun 2025, krisis properti di Tiongkok masih menjadi ancaman besar bagi perekonomian domestik dan global. Setelah bertahun-tahun mengalami tekanan, sektor properti Tiongkok belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan. Banyak perusahaan pengembang besar, termasuk Evergrande dan Country Garden, terus berjuang menghadapi utang yang membengkak dan kesulitan likuiditas.

Kini, karena pengembang properti swasta dan lokal terus mengalami kemunduran, dan sektor ini semakin didominasi negara. Hal ini menandai pembalikan yang mengejutkan bagi industri yang selama ini menjadi ikon pembangunan ekonomi Tiongkok.

Dikutip dari The Wall Street Journal, pengembang properti swasta Tiongkok terbaru yang mengalami krisis likuiditas adalah Vanke, salah satu pengembang terbesar yang tersisa di negara itu. Namun, intervensi negara telah mencegahnya dari ambang potensi gagal bayar untuk saat ini.

Minggu ini, Vanke memproyeksikan kerugian bersih sebesar 45 miliar yuan (sekitar 6,3 miliar dollar AS) untuk tahun 2024, menandai kerugian terbesar dalam sejarah perusahaan. Situasi ini diperburuk oleh pengunduran diri Ketua Yu Liang dan CEO Zhu Jiusheng, yang digantikan oleh Xin Jie dari Shenzhen Metro, sebuah perusahaan milik negara.

Obligasi Vanke telah anjlok dalam beberapa minggu terakhir, mendorong pemerintah Shenzhen untuk turun tangan. Menurut JPMorgan, perusahaan tersebut memiliki sebesar 33 miliar yuan obligasi yang jatuh tempo tahun ini.

"Untuk mengurangi risiko secara efektif dan sungguh-sungguh melindungi kepentingan pembeli rumah, kreditor, dan investor, Dewan Direksi telah memutuskan untuk memperkuat kemampuan manajemen Grup, memanfaatkan keunggulan sumber daya Shenzhen Metro sebagai pemegang saham utama dan pihak lainnya," jelas manajemen Vanke dikutip beberapa waktu lalu.

Pemerintah Tiongkok telah berupaya meredam dampak krisis dengan berbagai kebijakan, seperti pemangkasan suku bunga pinjaman, pelonggaran aturan kredit perumahan, dan intervensi langsung untuk menyelamatkan beberapa perusahaan properti yang dianggap terlalu besar untuk gagal. Namun, kebijakan ini belum cukup efektif dalam membalikkan tren penurunan di sektor properti.

Dampak dari krisis ini semakin meluas ke sektor keuangan. Banyak bank dan lembaga keuangan yang memiliki eksposur besar terhadap utang properti menghadapi peningkatan risiko gagal bayar. Selain itu, sektor konstruksi yang selama ini menjadi motor pertumbuhan ekonomi Tiongkok mengalami perlambatan signifikan, mengakibatkan lonjakan pengangguran dan penurunan daya beli masyarakat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Advertisement
11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.