Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ahli: Gunakan Kipas Angin dengan AC yang Diatur pada Suhu Lebih Tinggi dapat Menghemat Energi

📅 Sabtu, 11 Jan 2025, 00:02 WIB | Oleh:

Pada bulan Mei 2024, petani Laos bergulat dengan rendahnya hasil panen seperti kopi dan sayur-sayuran.

Meskipun kurang terlihat dibandingkan masalah lain, bahaya panas jauh lebih luas, termasuk berkurangnya produktivitas dan kerugian ekonomi, kecelakaan di tempat kerja, dan kesehatan mental yang buruk.

Akan tetapi, respons banyak negara terhadap gelombang panas ekstrem seringkali tidak semaju respons terhadap bencana lain seperti angin topan, tanah longsor, dan banjir.

Hub Asia Tenggara yang baru-baru ini diluncurkan di bawah GHHIN – bertempat di Fakultas Kedokteran Universitas Nasional Singapura Yong Loo Lin – bertujuan mengoordinasikan respons regional terhadap peningkatan suhu panas.

Kondisi cuaca yang sangat panas di wilayah ini juga diperburuk oleh pembangunan kota dan gedung, yang menyebabkan efek pulau panas perkotaan karena jalan dan gedung menahan panas matahari. Hal ini membuat daerah perkotaan jauh lebih panas daripada daerah pedesaan di sekitarnya.

Ahli iklim perkotaan Winston Chow dari Universitas Manajemen Singapura mencatat efek pulau panas perkotaan lebih kuat di kota-kota Asia daripada di kota-kota di Amerika atau Eropa.

“Alasan yang mungkin adalah urbanisasi cepat dalam hal pertumbuhan penduduk dan pembangunan yang terjadi di kota-kota Asia Timur, Selatan, dan Tenggara," katanya.

“Di Singapura, sekitar 50 persen peningkatan suhu disebabkan oleh pembangunan perkotaan,” tambah dia.

Chow menambahkan bahkan rencana aksi panas atau rencana ketahanan iklim yang dirancang dan dipikirkan dengan terbaik pun membutuhkan tidak hanya kemauan politik, tetapi juga sumber daya keuangan dan dukungan.

Ia mencatat sebagian besar pendanaan iklim masih diarahkan pada mitigasi, yaitu upaya pengurangan emisi karbon. “Investasi lebih banyak terhadap langkah-langkah adaptasi panas sangat dibutuhkan,” katanya.

Satu poin yang diulang-ulang sepanjang Forum adalah perlunya menjaga agar solusi potensial terhadap tekanan panas tetap berlaku di berbagai negara dan situasi.

Sedangkan Ollie Jay, pakar panas dan kesehatan dari Universitas Sydney, menekankan bahwa solusi harus terjangkau dan dapat ditingkatkan, terutama bagi mereka yang bergerak di sektor konstruksi dan pertanian.

“Penting untuk diingat intervensi yang kami uji dapat diterapkan secara luas pada kelompok yang paling rentan. Sering kali, orang benar-benar ingin (melihat) teknologi keren dan rompi pendingin yang mewah. Itu sama sekali tidak berguna bagi sebagian besar populasi . Orang-orang yang paling rentan terhadap dampak kesehatan akibat panas sering kali beroperasi di lingkungan yang sangat terbatas sumber dayanya. Jadi, intervensi yang kami uji, pada dasarnya, sangat sederhana dan sangat hemat sumber daya," tuturnya. 

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Advertisement
Menhub Instruksikan untuk Prioritaskan Evakuasi Penumpang KMP Virgo Transport 8

Menhub Instruksikan untuk Prioritaskan Evakuasi Penumpang KMP Virgo Transport 8

13 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.