Menanti Sinyal Baru The Fed, 23 Juli 2026
📅 Kamis, 23 Jul 2026, 08:05 WIB | Oleh: Muchamad IsmailJAKARTA – Rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan dalam perdagangan, hari ini (23/7), seiring sikap hati-hati pelaku pasar yang menanti arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS). Meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi atau kembali bersikap lebih ketat berpotensi memperkuat dollar AS.
Hal tersebut diyakini bakal memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam kondisi tersebut, pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan sentimen global dan respons kebijakan domestik dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai meningkatnya harga minyak akibat gangguan pasokan di kawasan Teluk berpotensi mendorong inflasi AS. Situasi tersebut memperbesar peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.
Dia menjelaskan data Prime Terminal menunjukkan probabilitas sebesar 78 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan, sementara peluang kenaikan suku bunga pada September berada di kisaran 68 persen.
Karenanya, Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Kamis (23/7), bergerak fluktuatif di kisaran 17.920-18.970 rupiah per dollar AS dengan kecenderungan melemah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebelumnya, nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Rabu (22/7) sore, melemah 29 poin atau 0,16 persen dari sehari sebelumnya menjadi 17.888 rupiah per dollar AS.
Ibrahim menilai pelemahan rupiah dipengaruhi tingginya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan meningkatkan suku bunga pada 2026. “Ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan meningkatkan laju kenaikan suku bunga pada 2026 meningkat tajam, didorong oleh harga minyak yang tinggi karena gangguan pasokan di Teluk memicu kekhawatiran inflasi dan memicu spekulasi tentang suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama,” ucapnya, dikutip dari keterangan tertulis di Jakarta.
Data Prime Terminal menunjukkan probabilitas sebesar 78 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuannya pekan depan. Sementara, kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan September berada di sekitar 68 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kenaikan ekspektasi ini dipicu konflik militer yang terus berlangsung antara AS dengan Iran, yang memasuki hari ke-11. Selain itu, investor turut memantai gerakan Houthi Yaman yang mengancam blokade angkatan laut terhadap Arab Saudi di Laut Merah. Hal ini membuat beberapa kapal tanker minyak mengubah rute dan menimbulkan kekhawatiran atas ekspor dari salah satu pemasok minyak mentah terbesar di dunia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!