Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Biar Tetap Jadi Tujuan Investasi, RI Semestinya Tak Gabung BRICS

📅 Jumat, 10 Jan 2025, 10:55 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Biar Tetap Jadi Tujuan Investasi, RI Semestinya Tak Gabung BRICS Doc: istimewa
Ket. Doktor Ekonomi lulusan Universitas Tanjung Pura (Untan) Pontianak, Kalimantan Barat, Sabinus Beni menilai, dengan bergabung ke BRICS Indonesia malah memilih masuk ke “laut kecil” bukan ke “samudera" yang lebih luas

JAKARTA-Indonesia dikhawatirkan akan kehilangan momentum menjadi negara tujuan investasi asing (FDI) seiring dengan keputusannya bergabung ke blok ekonomi BRICS yang dimotori China, Russia dan sejumlah negara lainnya.

Doktor Ekonomi lulusan Universitas Tanjung Pura (Untan) Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), Sabinus Beni mengatakan, Indonesia punya potensi ekonomi sangat besar, tetapi dengan bergabung ke BRICS kita berpotensi bukan menjadi pilihan Foreign Direct Invesstment (FDI). Ini bisa memicu stagnasi investasi asing di RI.

"Perlunya Indonesia menempatkan posisi yang tepat di antara blok ekonomi yang ada, agar tetap mendapat limpahan aliran modal, baik di pasar keuangan maupun di sektor riil,"ungkapnya dari Pontianak, Kalbar menanggapi keputusan RI bergabung ke BRICS.

Sabinus yang merupakan Dosen Kewirausahaan Institut Shanti Bhuana, Bengkayang, Kalbar itu berujar, kondisi perekonomian Indonesia saat ini membutuhkan dukungan yang lebih luas dari banyak negara. Tanpa bergabung dalam aliansi ekonomi BRICS (Brasil, Russia, India, China dan Afrika Selatan), Indonesia sudah mendapat dukungan dari Tiongkok. Namun, sikap Pemerintah yang memilih bergabung ke blok ekonomi yang beberapa anggotanya negara-negara dengan aliran ekonomi sosialis dinilai malah merugikan karena menutup sumber bantuan yang lebih besar dari Amerika Serikat (AS), Jepang, Taiwan, negara-negara Eropa, dan Korea Selatan. 

"Indonesia dinilai malah memilih masuk ke “laut kecil”, bukan ke “samudera yang lebih luas,"ucap Sabinus lagi.

Mestinya menurut dia, pemerintah meniru Vietnam yang ragu bergabung dengan BRICS. Negara tersebut mempertimbangkan hubungan ekonominya yang berkembang dengan Washington (AS) dibanding manfaat bergabung dengan blok yang dianggap sebagi penangkal pengaruh global di bawah pimpinan AS. Indonesia secara resmi menjadi anggota penuh BRICS pada 6 Januari 2025, seperti diumumkan oleh pemerintah Brasil yang menjadi presidensi BRICS tahun ini.

Guru Besar Bidang Ilmu Akuntansi Forensik Sektor Publik dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), sekaligus Ketua Asosiasi Dosen Akuntansi Sektor Publik (APSAE), Dian Anita Nuswantara, mengatakan, seharusnya RI lebih jeli sebelum mengambil keputusan untuk bergabung dengan BRICS, agar tidak justru dimanfaatkan dan merugikan pengusaha lokal. 

Menurutnya, Pemerintah sebaiknya lebih fokus meningkatkan daya saing dan mendorong pembukaan lapangan kerja agar tercipta iklim ekonomi yang lebih bergairah. “Bergabung dengan BRICS, tidak bisa hanya dipandang dari peluang pasar bagi produk ekspor Indonesia dengan asumsi Tiongkok dan Russia memiliki populasi penduduk yang sangat besar,” kata Dian. 

Apalagi, Tiongkok secara ekonomi sangat mendominasi BRICS, hal itu justru akan menjadikan Indonesia sebagai pasar potensial bagi produk produk Tiongkok. Bahkan Indonesia akan semakin bergantung pada investasi dan perdagangan dengan Tiongkok.

Industri dalam negeri semakin digencet industri Tiongkok seperti sudah terjadi saat ini dan tekanan itu semakin besar. Belum lagi sanksi dunia ke Russia, bisa bisa menyeret Indonesia pada posisi politik yang tidak menguntungkan. 

“Dari perhitungan awal saja, kita akan menciptakan jarak dengan Barat yang mana kontribusi dari hubungan selama ini lebih nyata,” kata Dian. 

Sebetulnya tanpa bergabung dengan BRICS, anggotanya akan tetap menjaga hubungan ekonomi dengan Indonesia karena potensi pasar yang sangat seksi, tinggal dikelola secara profesional. Lebih baik pemerintah menghidupkan perekonomian dengan menggerakkan pertanian dan memperkuat ekonomi perdesaan serta sektor lainnya yang menyerap banyak tenaga kerja. “Kalau kita bisa konsisten berantas korupsi, insentif untuk investor, dan perkuat daya saing, sudah akan jadi modal kuat menjadi negara maju,” tuturnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
KAI: Kunjungan Wisatawan La...
Nasional
Bapanas akan Mobilisasi Sto...
Advertisement
11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.