Jangan Cemas karena Sekarang Bisa Dideteksi
📅 Kamis, 09 Jan 2025, 14:59 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
JAKARTA – Teknologi memang hebat. Betapa tidak sekarang kecemasan seseorang pun bisa dideteksi. Sudah ada alat deteksinya seperti ditemukan Institut Teknologi Sumatera (Itera).
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Satryo Soemantri Brodjonegoro mendukung pengembangan inovasi alat pendeteksi kecemasan oleh Itera.
"Prototipe ini akan sangat bagus dikembangkan dan dihilirkan sebagai produk yang memiliki nilai tambah,” katanya.
Ini akan menjawab persoalan masyarakat, untuk menggerakkan ekonomi, bahkan menjadi substitusi produk impor.
Mendiktisaintek menekankan riset dan inovasi yang dilakukan perguruan tinggi harus mampu menjawab permasalahan masyarakat. Produk-produk riset jangan hanya berhenti sebatas prototype. Dia harus bisa dihilirkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia juga menilai langkah yang dilakukan Itera merupakan upaya cemerlang dalam mendukung pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia.
Ini sangat bagus untuk ekonomi kreatif dengan mengurangi bahan baku impor. Sekarang kita berkreasi, tapi masih ada yang menggunakan bahan baku impor.
“Kalau bisa, kitalah yang mengekspor bahan baku itu nantinya," ujar Mendiktisaintek Satryo. Menteri bukannya bicara produk, malah membahas yang lain.
Sebaiknya Anda baca juga:
Untung diceritakan Rektor Itera I Nyoman Pugeg Aryantha. Dia memaparkan alat deteksi yang dikembangkan berbasis data besar (big data) ini diklaim mampu mendeteksi gangguan kecemasan yang dialami seseorang. Alat ini diharapkan dapat digunakan sebagai deteksi dini gangguan kecemasan.
Melalui inovasi ini Itera dapat mencegah, menangani, dan memfasilitasi para mahasiswa yang mengalami gangguan-gangguan kecemasan, bersama para psikolog.
“Alat ini di kembangkan berbasiskan big data. Dalam aplikasinya, produk inovasi Itera ini menggunakan tiga parameter pendeteksi kecemasan," kata Nyoman Pugeg.
Nyoman Pugeg menjelaskan alat tersebut bekerja dengan mendeteksi sejumlah parameter yang digunakan, antara lain kualitas air pada kulit atau konduktansi kulit, detak jantung, dan temperatur.
Ia melanjutkan parameter ini membaca ekspresi tubuh melalui senyawa kimia yang terkandung di dalam keringat, yang kemudian terbaca dan dianalisis oleh sensor. Hasil analisis gabungan tiga parameter tersebut yang kemudian menjadi acuan mendeteksi kecemasan pada manusia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!