Tradisi Ramah Lingkungan untuk Ciptakan Celana Jins Berkelanjutan di Jepang
📅 Sabtu, 28 Des 2024, 02:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/Philip FONG
Sebut saja tradisi ini sebagai penangkal limbah fashion dimana celana jins Jepang yang diwarnai dengan tangan menggunakan pewarna nila alami dan ditenun pada alat tenun kuno, lalu dijual dengan harga mahal kepada penikmat denim global.
Tidak seperti produk sejenisnya yang diproduksi secara massal, pakaian tangguh yang dibuat di pabrik kecil Momotaro Jeans di barat daya Jepang ini sengaja dirancang untuk dipakai selama puluhan tahun dan bahkan dilengkapi dengan garansi perbaikan seumur hidup.
Di pabrik itu, Yoshiharu Okamoto dengan lembut mencelupkan benang katun ke dalam bak berisi cairan biru tua, yang mengotori tangan dan kukunya saat ia mengulangi proses tersebut.
“Katun tersebut diimpor dari Zimbabwe, tetapi nila alami yang mereka gunakan dipanen di Jepang karena warnanya jauh lebih kaya daripada imitasi sintetis,” ucap Okamoto.
Ia menyebutnya sebagai metode yang memakan waktu dan mahal yang umum digunakan untuk mewarnai kimono pada periode Edo abad ke-17 hingga ke-19.
Sebaiknya Anda baca juga:
Momotaro Jeans didirikan pada tahun 2006 oleh Japan Blue, salah satu dari beberapa lusin produsen denim di kota tepi laut Kojima, yang terkenal dengan kualitas produk mereka.
"Kami sangat ketat tentang semua aspek manufaktur," kata presiden Japan Blue, Masataka Suzuki, kepada AFP. “Termasuk di dalamnya apakah jahitannya benar, dan apakah pewarnaannya bagus, hingga menjadikan pengrajin lokal dengan keterampilan manufaktur tradisional sangat diperlukan,” imbuh dia.
Namun usaha mereka tidaklah murah. Sepasang celana jins Momotaro standar dijual seharga sekitar 30.000 yen, sementara sepasang celana jins campuran sutra harganya 60.000 yen. Produk termahal dari merek tersebut, yang ditenun dengan tangan menggunakan mesin kayu yang diubah dari alat tenun kimono mewah, memiliki banderol harga lebih dari 200.000 yen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mengikuti jejak merek denim Jepang kelas atas yang populer seperti Evisu yang berpusat di Osaka dan Sugar Cane di Tokyo, minat terhadap Japan Blue justru tumbuh di kalangan pembeli luar negeri. Mereka kini menyumbang 40 persen dari penjualan eceran, dan perusahaan baru-baru ini membuka toko keenamnya di Kyoto yang menyasar wisatawan berkantong tebal.
Reputasi Khusus
Pembuatan denim berkembang pesat sejak tahun 1960-an di Kojima, yang memiliki sejarah panjang dalam penanaman kapas dan pembuatan tekstil. Pada zaman Edo, kota ini memproduksi tali anyaman untuk samurai guna mengikat gagang pedang. Kemudian, kota ini beralih memproduksi kaus kaki tabi dengan ujung terbelah dan kemudian seragam sekolah. Dan saat ini denim dari Kojima digunakan oleh merek mode mewah internasional.
“Pasar jins Jepang telah tumbuh dalam 10 hingga 15 tahun terakhir," kata Michael Pendlebury, seorang penjahit yang mengoperasikan bisnis jahitnya di Inggris bernama The Denim Doctor.
“Meskipun dipuja oleh penggemar denim di negara-negara Barat, denim masih tidak terjangkau bagi kebanyakan orang dan memiliki reputasi yang khusus," tutur Pendlebury, seraya menambahkan bahwa merek denim produksi massal seperti Levis, Diesel, dan Wrangler, adalah yang terbesar dan paling banyak dipakai, tetapi menurutnya kualitas tertinggi masih buatan Jepang.
Pendlebury pun menambahkan bahwa nilai yen yang lemah dan ledakan pariwisata dapat mendongkrak penjualan jins buatan Jepang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!