Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tidak Hanya Siswa, Guru Juga Perlu Merasa Aman di Sekolah

📅 Selasa, 26 Nov 2024, 12:10 WIB | Oleh: Tim Penulis

Salah satu akar masalah terjadinya kekerasan pada guru berkaitan dengan keterbukaan informasi. Ini mendorong anak mendeteksi hak-hak individunya secara mandiri dan memengaruhi cara pandangnya terhadap orang lain dan lingkungan.

Media, contohnya, banyak mengkampanyekan pentingnya memperjuangkan hak dan kesetaraan, termasuk metode pengajaran yang tidak sekadar mengarahkan anak menjadi lebih kreatif, tetapi juga otonom. Tanpa pendampingan memadai, kondisi ini justru akan membuat anak reaktif dalam merespons sikap dan teguran yang diterima.

Masyarakat juga kerap menilai guru berdasarkan capaian belajar siswa ataupun sikapnya di luar sekolah. Film Budi Pekerti, misalnya, dapat menjadi gambaran bagaimana keterbukaan informasi dan menurunnya penghormatan atas hak privasi menyebabkan kelalaian guru, mudah diviralkan dan menjadi senjata untuk merundung guru.

Pola pengasuhan juga mengalami pergeseran yang relatif permisif dengan argumen bahwa anak tidak boleh diperlakukan dengan keras (seperti dipukul atau ditegur keras) karena akan memunculkan trauma dan memengaruhi perkembangan anak.

Selain itu, kesinambungan pembelajaran dari sekolah ke rumah juga memengaruhi relasi orang tua, siswa, dan guru. Kurangnya kegiatan bersama antar tiga aktor tersebut dalam konteks pembelajaran, menyebabkan bonding antara sekolah dan orang tua, tidak selalu harmonis. Beberapa kegiatan sekolah yang melibatkan orang tua, seringkali terbatas pada produk/hasil kerja siswa, bukan pada pelibatan di ranah proses pembelajaran.

Bagaimana menciptakan rasa aman bagi guru

Terdapat beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi risiko terjadinya kekerasan kepada guru.

Pertama, pendampingan konseling bagi guru. Praktik konseling ini dapat menjadi ruang konsultasi bagi guru yang menghadapi permasalahan kinerja serta hubungan sosial dengan siswa, orang tua, dan lingkungan kerjanya.

Beberapa kasus kekerasan pada guru, berangkat dari kesalahpahaman terkait penegakan disiplin sekolah. Karena itu, guru juga perlu dibekali dengan keterampilan sosial untuk menghadapi karakteristik siswa yang beragam, sehingga guru dapat menemukan metode yang tepat untuk menangani berbagai jenis pelanggaran siswa.

Kedua, membangun ekosistem sekolah yang kondusif melalui kepemimpinan kepala sekolah. Melalui kepemimpinan transformasional, kepala sekolah berperan penting membentuk ekosistem sekolah yang kondusif dan aman untuk guru. Studi tahun 2020 menemukan, lingkungan kerja yang layak akan mendorong guru untuk terlibat aktif memastikan siswa berkembang dan bersikap positif terhadap lingkungannya.

Ketiga, penguatan keterlibatan orang tua dalam pendidikan melalui program sekolah. Umumnya sekolah masih terbatas dalam mendesain program pelibatan untuk membangun relasi emosional dengan orang tua. Program ini selayaknya tidak sekadar berbasis produk/hasil kerja seperti pameran kerja atau pembagian rapor.

Potensi kekerasan dan ketidakharmonisan antaraktor di sekolah, sebenarnya dapat terdeteksi. Selain melalui gambaran interaksi, ini juga tampak dalam indikator iklim keamanaan sekolah yang tergambar pada data Survei Lingkungan Belajar di platform Rapor Pendidikan.

Data ini dapat digunakan sekolah sebagai dasar pertimbangan untuk merancang berbagai program yang responsif mengoptimalkan pelibatan berbagai pihak dalam pendidikan, termasuk menangani potensi terjadinya kekerasan di sekolah. Harapannya, sekolah dapat menjadi tempat yang aman dan nyaman, tidak hanya bagi siswa, tapi juga guru.The Conversation

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Diserang Rudal Iran, Bandar...
Luar Negeri
Warga Singapura Makin Panja...
Luar Negeri
Disapu Topan Jangmi, 23 War...

Babel Gatiskan 6.000 Sertifikat Halal

43 menit yang lalu | Sujar

Daerah
Babel Gatiskan 6.000 Sertif...
Luar Negeri
Bandara Dihantam Rudal, Kuw...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.