Sejumlah Negara Masih Terpecah soal Penyediaan Dana Iklim
📅 Jumat, 22 Nov 2024, 01:30 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SNegara-negara maju menginginkan semua sumber pendanaan, termasuk uang publik dan investasi swasta, diperhitungkan menuju tujuan tersebut, dan agar negara-negara kaya yang tidak berkewajiban membayar, seperti Tiongkok, ikut menyumbang. Tiongkok mengatakan bahwa mereka telah menyediakan sejumlah besar pendanaan iklim.
Negara-negara berkembang menginginkan agar uang tersebut sebagian besar berasal dari anggaran pemerintah yang besar dalam bentuk hibah atau uang tanpa syarat, bukan pinjaman yang menambah utang nasional. Negara-negara berkembang menghadapi peningkatan biaya dan utang akibat bencana yang terkait dengan iklim.
“Teks keuangan baru menyajikan dua ujung ekstrem tanpa banyak hal yang bisa dijembatani,” kata Li Shuo, direktur pusat iklim Tiongkok di Asia Society Policy Institute.
Hoekstra mengatakan, Uni Eropa masih memerlukan kejelasan mengenai elemen mana dalam kesepakatan yang akan diperhitungkan dalam tujuan keuangan akhirnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Dengan berat hati saya sampaikan, masih banyak pekerjaan yang harus kami lakukan, untuk jabatan presiden, dan semua pihak yang terlibat,” katanya.
Uni Eropa dan Amerika Serikat, dua penyedia keuangan iklim terbesar, telah menolak tekanan untuk menetapkan angka sampai bentuk kesepakatannya lebih jelas.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!